”Kita khawatir, jangan sampai epicentrum positif Covid-19 itu ada di kantor-kantor. Kita hindari, jangan sampai itu terjadi,” kata Sekda NTB H Lalu Gita Ariadi yang juga Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Covid-19 NTB, kemarin (20/7).
Karena itu, mulai saat ini, peserta rapat harus dipastikan dalam kondisi sehat, memiliki hasil rapid test non reaktif, dan suhu tubuhnya normal. Bila suhu tubuhnya 39 derajat Celcius, pegawai tidak boleh ikut rapat.
”Karena itu setiap rapat perlu ada thermo gun pengukur suhu tubuh,” katanya.
Selain itu, setiap presentasi disampaikan secara singkat, padat, dan jelas. Sehingga tidak banyak memakan waktu. ”Diupayakan rapat tidak lebih dari setengah jam atau satu jam,” kata Gita.
Selama rapat peserta juga harus selalu menggunakan masker. Masker tidak boleh dilepas. Bahkan saat berbicara. Sehingga peserta rapat tidak ada kesempatan makan minum. ”Tidak ada makan minum lagi dalam rapat,” tegasnya.
Kebijakan-kebijakan tersebut, lanjut Sekda, merupakan respons pemerintah daerah karena kasus Covid-19 di Indonesia sudah melampaui China dan kasus baru di NTB juga masih tinggi.
”Teman-teman (ASN) ini kan bekerja keras juga. Salah satu kerja pemerintah itu sering ada rapat-rapat,” ujarnya.
Rambu-rambu tersebut dibuat supaya rapat pemerintah tidak menjadi pusat penularan baru. Hal itu juga sesuai anjuran juru bicara Gugus Tugas Covid-19. ”Kita ikuti imbauan juru bicara pusat,” katanya.
Kekhawatiran itu juga bukan tanpa dasar. Sebab, beberapa ASN Pemprov juga terjangkit Covid-19. Bahkan hasil rapid test terbaru menunjukkan, 18 orang anggota Satpol PP NTB menunjukkan hasil reaktif.
Kantor Rawan
Sementara itu, dari Jakarta, Gugus Tugas Covid-19 memastikan bahwa pertumbuhan kasus positif Covid-19 kini kian banyak dari perkantoran. Jubir Pemerintah Untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengungkapkan, bahwa sebagian besar pertumbuhan kasus positif berasal dari karyawan di kompleks perkantoran.
Hingga kemarin (20/7), Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 (GTPPC-19) mencatat pertumbuhan kasus baru sebanyak 1.693 orang. Menjadikan total kasus Covid-19 nasional sebanyak 88.214 orang. Diimbangi dengan kasus sembuh sebanyak 1.576 orang sehingga menjadi total 46.977 orang. Selain itu, kasus kematian juga terus bertambah 96 sehingga menjadi 4.239 orang.
Yuri menjelaskan, dalam 1 minggu terakhir, dari analisis penelusuran kontak yang dilakukan oleh Gugus Tugas, penambahan kasus positif lebih banyak berasal dari aktivitas perkantoran. Aktivitas yang selama ini dilakukan dari rumah, namun mulai kembali dilakukan di perkantoran.
”Kami perhatikan kegiatan rapat. Pertemuan rapat yang ada di perkantoran. Kami mengingatkan sekali lagi. Bahwa aktivitas ini kalaupun harus dilaksanakan, lakukan di ruangan sirkulasi udara yang baik,” kata Yuri kemarin (20/7)
Yuri menyarankan rapat-rapat sebaiknya dilakukan di pagi hari. Ruang rapat pun harus dipastikan memiliki sirkulasi udara yang baik untuk menghindari konsentrasi mikrodroplet. “Buka semua jendela. Sehingga diyakinkan sirkulasi udara baik. Matikan AC. Pastikan udara bergerak,” jelasnya.
Selain itu, kata Yuri, penting untuk membatasi kapasitas ruang. Jika harus diikuti orang banyak, peserta rapat lain bisa mengikuti di ruangan lain dengan metode daring. ”Rapat upayakan lebih dari setengah jam. Hindari penyajian makanan dan minuman yang membuat peserta rapat harus membuka masker,” katanya.
Selain itu, Yuri juga menegaskan bahwa kabar yang beredar tentang thermo gun yang dapat merusak otak tidaklah benar. Ia mengatakan bahwa penggunaan thermal gun sebagai alat ukur suhu tubuh manusia dipastikan aman.
Secara ilmiah menurut Yuri, berbagai ahli sudah mengatakan bahwa thermal gun hanya mengukur suhu tubuh dengan pancaran radiasi sinar inframerah, yang setiap saat pasti akan dipantulkan oleh semua benda yang ada di sekitar. "Hanya inframerah," jelas Yuri.
Dalam hal ini, Yuri juga memastikan bahwa thermal gun tidak menggunakan sinar laser dan tidak menggunakan sinar radioaktif semacam, x-ray. "Bukan menggunakan laser atau radioaktif sinar X," katanya.
"Saudara-saudara, ikuti informasi ini dengan cara yang benar. Kesulitan ini tidak usah ditambah dengan berita-berita yang menyesatkan. Karena, ini akan membuat masyarakat semakin panik. Oleh karena itu, inilah yang harus kita jelaskan dan masyarakat agar, memakluminya," kata Yuri.(ili/jpg/r6)
Protokol Rapat Tatap Muka di Kantor
- Peserta yang Sakit Tidak Boleh Ikut Rapat
- Aturan utama yang perlu diperhatikan adalah karyawan yang ikut meeting tidak boleh sakit. Rapat juga harus dihindari orang yang tanpa gejala.
- Ruangan Harus Menjamin Aturan Jaga Jarak
Jangan rapat di tempat yang sempit atau membuat peserta lainnya tidak bisa saling menjaga jarak.
- Ruangan Harus Punya Sirkulasi Udara yang Baik
Kalau sirkulasi udara berjalan baik, ini bisa meminimalisir adanya microdroplet yang bertahan di dalam ruangan.
- Tidak Menyediakan Makan dan minum
Menyediakan kudapan dalam rapat memberi ruang peserta rapat membuka masker.
- Bahas yang Penting Saja
Pelaksanaan rapat juga harus dibatasi dengan waktu, maksimal 30 menit saja. Tujuannya, agar tidak banyak yang mengobrol dan menyebarkan virus Korona.
- Sebagian Peserta Rapat Lewat Daring
Kalau harus meeting tatap muka dan pesertanya banyak, sebagian lainnya tetap secara daring.
- Buka Masker Boleh, tapi Jangan Bergerak
Mau bicara bisa membuka masker asal jangan bergerak mendekati peserta rapat sehingga droplet tidak akan mengenai orang lain.
Sumber: Gugus Tugas Editor : Administrator