Pusat budidaya Madu Trigona di Desa Saribaya ada di Dusun Sandongan Timur. Tentu, pilihan membudidayakan Madu Trigona bukan kebetulan. Warga daerah ini terbiasa beternak lebah untuk diambil madunya. Tapi, itu masih memakai cara tradisional.
Sampai kemudian Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) turun tangan. Warga yang membudidayakan Madu Trigona pun dibina secara khusus oleh tim salah satu perguruan tinggi negeri di NTB. Sehingga kini pengelolaannya menjadi lebih profesional.
Kepala Desa Saribaya Abdurrahman mengemukakan, Madu Trigona berbeda dengan madu yang dihasilkan lebah di hutan. Madu Trigona oleh orang Lombok familiar disebut Madu Nyanteng. Madu Trigona punya rasa dan tampilan berbeda. Pun begitu dengan dengan kualitasya.
“Walaupun agak kecut, tapi kualitas Madu Trigona jauh lebih bagus. Kandungan profolisnya juga lebih bagus,’’ ungkapnya.
Beragam cara dilakukan warga untuk budidaya Madu Trigona. Ada yang secara pribadi. Ada juga yang bergabung dalam komunitas. Di sana kini misalnya sudah ada komunitas masyarakat sadar lingkungan “My Darling”.
“Komunitas ini salah satu gerakannya adalah pemberdayaan masyarakat di bidang budidaya Madu Trigona,’’ katanya.
Keuntungan budidaya Madu Trigona ini tidak sedikit. Dibandingkan madu biasa, Madu Trigona jauh lebih mahal. Satu botol dibeli dari masyarakat Rp 225 ribu. “Itu untuk satu botolnya. Kemudian nanti BUMDes menjualnya seharga Rp 250 ribu. Jadi banyak provitnya,’’ tuturnya.
Untuk proses budidaya Madu Trigona memang tergantung cuaca. Kalau musim panas. Dua atau tiga bulan sudah panen. Sedangkan musim hujan agak sulit. Karena bisa sampai 5 bulan untuk panen.
Cara budidanya ada dua macam. Pertama, lebah atau bibit madu disimpan dalam gentong. Kedua disimpan dalam kotak. Hanya saja menggunakan gentong lebih sulit. Karena bukan habitat asli lebah.
“Tapi lebah madu Trigona ini tidak berbisa dan tidak menyengat. Itu seperti lalat kecil. Indukannya dibeli di warga atau didapatkan di hutan,’’ katanya.
Sementara untuk kendala budidaya ini ada diproduktivitas lebah. Seperti indukan lebah yang sulit dicari. Karena untuk produksi besar paling tidak butuh 1.000 boks. Sementara di BUMDes dan masyarakat ditotal baru 450 boks tersedia.
Dari sisi ekonomi, budidaya Madu Trigona sangat luar biasa untuk menopang perekonomian masyarakat. Karena peminatnya luar biasanya banyak. Madu ini juga tidak sulit dicari pembelinya.
“Sekali panen bisa 10 botol. Itu juga langsung sudah inden barangnya tidak perlu ke pasar,’’ terangnya.
Kini, di masa pandemi, budidaya Madu Trigona ini telah menjadi penyelamat bagi ekonomi warga. Pun manakala ada Lomba Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB. Bumdes setempat pun kian bergairah. Maka, kini muncul pula pengembangan usaha. Mulai dari budidaya jamur tiram. Pengolahan abon ikan nila. Sampai yang terbaru pertanian Bunga Gumitir.
“Bunga Gumitir itu menjadi bahan dasar makanan Madu Trigona. Kalau bunganya ini banyak, Insya Allah cepat panennya,’’ jelasnya.
Lomba Kampung Sehat menurut Abdurrahman memiliki tujuan yang bagus. Dimana warga masyarakat harus menjadi garda terdepan. Dengan Kampung Sehat, masyarakat bisa lebih sadar menjaga kebersihan. Apalagi dengan pandemi Corona sekarang ini.
Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari menjelaskan, budidaya Madu Trigona tidak hanya bermanfaat untuk kesehatan. Tapi juga menopang perekonomian masyarakat sekitar.
“Tidak salah kalau ini bagus untuk inovasi warga dibidang ketahanan pangan. Manfaatnya sangat banyak untuk masyarakat,’’ katanya. (kus/r6) Editor : Administrator