Dermaga yang dibangun dengan anggaran Rp 6,7 miliar itu juga sudah diserahterimakan. Masa pemeliharaanya pun sudah habis Juni lalu.
”Serah terimanya langsung oleh rekanan kepada dinas. Rencananya kita mau adakan acara peresmian tapi ada Pandemi Covid-19 ini makanya tidak jadi,” jelas pria yang menjabat kepala Bidang Perhubungan Darat Dishubludkan KLU ini.
Untuk pemanfaatannya, difokuskan pada boat penyebrangan dari Bangsal dan Teluk Nara. Sementara ini hanya bisa menampung empat boat dengan GT sedang.
”Bisa saja untuk boat besar tapi nanti masa pakai dermaganya sebentar,” tandas dia.
Sekretaris Dinas Perhubungan Kelautan Perikanan (Dishublutkan) Lombok Utara Lalu Majemuk menuturkan, ada pula Rp 80 miliar anggaran Kawasan Setrategis Pariwisata Nasional (KSPN) mulai dilelang.
”Itu untuk tiga gili saja sedangkan untuk kawasan di wilayah Bayan ditunda. Karena dari Rp 100 miliar itu dipangkas oleh recofusing menjadi Rp 80 miliar,” jelas dia.
Menurutnya, KLU masih beruntung bisa mendapatkan anggaran itu, meski nilainya berkurang. ”Sekarang ini sedang masuk tahapan proses lelang dengan HPS sebesar Rp 79,4 miliar,” beber mantan kabag pembangunan itu.
Prioritas dukungan sektor pariwisata yang akan dibangun di Gili Air itu berupa fasilitas ruang tunggu dermaga. Termasuk penambahan panjang dermaga, fasilitas penerangan jalan umum (PJU), toilet dan pembangunan jalan lingkarnya.
Sedangkan di Gili Meno akan dibangun fasilitas seperti pemugaran kawasan danau, fasilitas toilet, PJU dan jalan. Selain itu ada penambahan bangunan lapak untuk art shop. Untuk di Gili Trawangan, dibangunkan ruang tunggu, jalan lingkar, dan toilet.
”Kita sempat down lantaran persoalan Gili Air masih belum selesai. Setelah kami perjuangkan akhirnya penjelasan kami diterima dan Lombok Utara tetap mendapat anggaran itu,” tandas dia. (fer/r9) Editor : Administrator