-----------------------------------------------
MASYARAKAT Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur adalah masyarakat yang tangguh. Mereka terlatih menghadapi bencana. Pun manakala pandemi Covid-19 datang.
“Masyarakat kami petarung yang mampu melewati badai pandemi Covid-19. Sekuat apapun ia menyerang dan mengurung,” kata Kepala Desa Pesanggrahan H Badrun kepada Lombok Post.
Ada banyak desa di NTB yang telah mengoptimalkan perannya sebagai desa tanggap Covid-19. Kata Badrun, desa yang dipimpinnya adalah salah satu dari desa tersebut.
Awal mula tibanya pandemi Covid-19 di NTB, pemerintah desa kata dia langsung membentuk Tim Gerak Cepat (TGC) Pemantau Covid-19. TGC yang diketuai Badrun itu terdiri dari BKD yang berjumlah 22 orang, 11 Kawil, 32 Ketua RT dan 55 kader.
“Dibantu tenaga medis dari PKM, Babinkamtibmas dan Babinsa,” jelasnya.
Begitu terbentuk, TGC langsung bergerak. Melakukan sosialisasi mengenai bahaya Covid-19 ke kampung-kampung. Tak hanya itu, penyemprotan disinfektan ke tempat ibadah dan sekolah juga segera dilaksanakan. “Karena jalan masuk ke desa ini satu pintu, kita dengan mudah bisa mengontrol masuknya pendatang,” terangnya.
Tak hanya itu, TGC juga memastikan pemeriksaan dan isolasi mandiri bagi warga yang baru pulang dari daerah terdampak. Begitu juga dengan penjagaan ketat di pintu masuk desa. Kata Badrun, setiap kendaraan yang masuk akan disemprot guna memastikan kondisinya steril. Semua kerja keras TGC terbayar dengan tidak adanya satu pun warga yang terpapar virus korona.
Meminta warga untuk tidak keluar adalah salah satu masa tersulit bagi pemerintah desa. Kata Badrun, masyarakat yang setiap hari harus mencari nafkah sangat terdampak oleh pandemi Covid-19. Di saat seperti itulah, pihaknya memberdayakan Lumbung Pangan milik Gapoktan Lereng Rinjani Desa Pesanggrahan.
Gapoktan yang berjumlah 14 kelompok tani itu memberikan kemudahan bagi warga yang membutuhkan beras. “Lumbung pangan ini memberikan warga untuk mengambil beras sesuai kebutuhan,” terangnya.
Tentu tidak gratis. Tapi pihaknya memberikan keringanan dengan memberikan warga berhutang. Kata Badrun, adanya lumbung pangan yang dikuatkan oleh para petani di desanya sangat membantu menghadapi situasi genting saat itu. Menurutnya, salah satu penguat yang membuatnya bisa tegas meminta warga disiplin menerapkan protokol kesehatan Covid-19 adalah adanya lumbung pangan.
Mempertahankan diri sebagai zona hijau menurut Badrun tidak semudah menjaga warga tembok rumah tetap awet dari sinar matahari dan hujan. Karena yang dihadapi dan diatur adalah masyarakat. Salah satu tantangan terbesarnya adalah saat dibukanya kembali pintu pariwisata oleh Dispar Lotim.
Di mana, wisata pemandian Otak Kokoq yang berada di desanya mau tak mau harus didatangi oleh orang dari luar wilayahnya. Dari saat itu, TGC tak bisa lagi menutup membentangkan portal di gerbang masuk desa. Namun Badrun telah membangun komunikasi dengan Dispar Lotim tentang kewajiban penerapan protokol kesehatan Covid-19 bagi wisatawan.
“Warga yang berpenghasilan wisata ini juga tidak sedikit. Karena itu kami harus buka,” jelasnya.
Menurut Badrun, kampung sehat adalah konsep menjalankan kembali kehidupan yang normal dengan gaya baru. Gaya yang disesuaikan dengan keadaan. Di mana, warga kini mulai harus terbiasa mengenakan masker saat bekerja. Begitu juga dengan jaga jarak, dan mencuci tangan.
“Desa kami sudah berkali-kali dihadapkan pada situasi paling sulit. Tapi kami mampu beradaptasi, bertahan, bahkan menyeimbangkan diri kembali,” terangnya mengingat bencana gempa bumi yang melanda sebelumnya. (tih/r6)
Melawan Covid-19 ala Pesanggrahan Lotim
- Bentuk Tim Gerak Cepat (TGC) penanganan Covid-19.
- Perkuat peran lumbung pangan yang dinakhodai Gapoktan Lereng Rinjani Desa Pesanggrahan.
- Libatkan peran aktif masyarakat mempersiapkan tempat cuci tangan.
- Membuka destinasi wisata dengan protokol ketat.
Sumber: Diolah Lombok Post
Editor : Administrator