Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Dari Karang Bayan, Kerajinan Ketak Jadi Duta NTB ke Mancanegara

Administrator • Sabtu, 15 Agustus 2020 | 17:28 WIB
TAK TERGERUS PANDEMI: Seperti inilah para perempuan Desa Karang Bayan menganyam kerajinan ketak di salah satu unit usaha kerajinan yang ada di desa tersebut. Di tengah pandemi, kerajinan ini terus menggeliat. (POLDA NTB FOR LOMBOK POST)
TAK TERGERUS PANDEMI: Seperti inilah para perempuan Desa Karang Bayan menganyam kerajinan ketak di salah satu unit usaha kerajinan yang ada di desa tersebut. Di tengah pandemi, kerajinan ini terus menggeliat. (POLDA NTB FOR LOMBOK POST)
Pulau Lombok dikenal dengan beragam kerajinan anyaman. Salah satunya anyaman ketak dari  Karang Bayan, Lisangsar, Lombok Barat. Tak cuma di sini, kerajinan ini bahkan sudah terkenal ke penjuru dunia.

----------------------------------------------

 

PUSAT pembuatan anyaman ketak di Desa Karang Bayan ada di Dusun Peresak Timur.

Menilik sejarahnya, kerajinan ini bermula karena tanaman ketak dianggap sebagai rumput liar yang merusak tanaman lainnya. Biasanya menjulur ke pohon yang lain. Selain itu dianggap juga tidak sehat.

Rumut ketak juga acap disebut tidak berharga. Tapi, tentu itu dulu. Kini justru rumput ini sangat berharga. Karena menjadi bahan utama kerajinan anyaman.  Dari rumput ketak, terlahir aneka kerajinan bernilai tinggi seperti tas, berbagai peralatan rumah tangga seperti alas piring, alas gelas, maupun tempat aksesoris. Layaknya emas, kini rumput ketak banyak dicari sebagai bahan utama kerajinan anyaman.

Awaludin, warga Dusun Peresak Timur yang merupakan salah satu pengrajin ketak mengemukakan, di desanya, kerajinan anyaman ini sudah dimulai sejak tahun 1996. Awaludin lah yang memulai. Dirinya mengajak warga sekitar untuk mulai membuat ketak. Sembari juga belajar untuk memasarkan kerajinan hasil kreasinya.

“Awalnya saya mulai memasarkan di seputaran Mataram. Terus ke Ampenan dan Senggigi setelah tahun 1997,’’ ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, pembeli mulai datang langsung ke Desa Karang Bayan. Tidak hanya warga lokal. Tapi juga dari luar daerah. Seperti Bali dan lainnya yang datang ke Lombok.

Banyak yang memburu ketak di Desa Karang Bayan. Sekarang, pembeli ketak datang dari seluruh penjuru negeri. “Setelah itu mulai dikenal dibanyak daerah. Karena pemasaran kita cukup berhasil,’’ katanya.

Tidak hanya menunggu pembeli yang datang. Awal juga memasarkan produknya melalui media sosial. Pria ini juga menyiapkan katalog untuk memudahkan konsumen jenis kreasi yang diinginkan.

“Cukup banyak pesanan yang kita dapat dari online. Dari berbagai daerah yang memesan. Kita harus manfaatkan teknologi untuk memasarkan,’’ tuturnya.

Menurutnya, membuat kerajinan ketak awalnya cukup sulit. Tapi karena terbiasa, membuat ketak menjadi cukup mudah. Saat ini, agar tidak monoton dan tetap dicari pembeli, model ketak yang dibuat berevolusi mengikuti perkembangan zaman.

“Ada juga pemesan datang membawa model tertentu. Itu yang diminta kita buatkan sesuai pesanan konsumen,’’ katanya.

Untuk bahan baku rumput ketak, sekarang kata Awal tidak sulit ditemukan. Karena banyaknya usaha ketak di Pulau Lombok. Bahan baku ketak sampai dipesan di luar daerah. Untuk harga, satu ikat atau 100 biji rumput ketak dibeli seharga Rp 35 ribu. “Bahan bakunya tetap ada. Sekarang sudah dicampur juga dengan rotan,’’ katanya.

Dibandingkan dengan harga bahan baku dan tingkat kerumitan, harga kerajinan ketak cukup sebanding. Harganya produk juga tergantung model dan tingkat kesulitan. Ketak buatan Awaludin mulai dijual Rp 10 ribu. Bahkan sampai ratusan ribu.

“Ada juga yang jutaan. Tapi itu jarang diproduksi. Karena permintaan ke kita juga  jarang yang mahal-mahal,’’ ungkapnya.

Untuk satu jenis anyaman ketak, waktu pembuatannya tergantung besar kecilnya anyaman. “Paling cepat selesai sehari. Maksimal itu tiga hari. Harga ketak ini cukup sebanding dengan tingkat kesulitannya,’’ bebernya.

Di  tengah pandemi Covid-19 sekarang ini, diakui Awal, pembeli ketak belum normal seperti sebelumnya. Namun pembeli ketak masih tetap ada. Usaha ketak juga masih bisa diandalkan menopang perekonomian warga di tengah pandemi.

“Karena ini usaha kami sejak dari dulu. Sekarang sudah ada puluhan usaha ketak di Desa Karang Bayan. Usaha ketak ini bisa diandalkan dengan situasi sekarang,’’ ungkapnya.

Kini ia berharap pandemi Covid-19 segera berlalu. Dirinya pun mengapresiasi Lomba Kampung Sehat Nurut Tatanan Baru yang digelar Polda NTB. Usaha ketak juga layak dikedepankan dalam menopang perekonomian warga.

“Lomba Kampung Sehat ini sangat positif dan dampaknya dirasakan oleh warga masyarakat,’’ katanya.

Kapolresta Mataram Kombes Pol Guntur Herditrianto mengapreasi bentuk usaha yang dilaksanakan masyarakat. Apalagi di tengah pandemi korona sekarang ini. Kegiatan yang mendukung perekonomian warga masyarakat oleh kepolisian tetap didukung seratus persen.

“Karena ini sangat positif. Ini juga selaras dengan Lomba Kampung Sehat Nurut Tatanan Baru yang diinisiasi Bapak Kapolda NTB,’’ ungkap Guntur. (kus/r6) Editor : Administrator
#Kampung Sehat #Karang Bayan #Kerajinan Ketak