Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Selly-Manan Beri Subsidi Angkutan Kota di Mataram

Administrator • Senin, 14 September 2020 | 00:13 WIB
SAMPAIKAN KELUH KESAH: Para sopir bemo menempatkan harapan besar kepada pasangan Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan karena dinilai memiliki strategi untuk membenahi dan memerhatikan transportasi publik di Mataram.
SAMPAIKAN KELUH KESAH: Para sopir bemo menempatkan harapan besar kepada pasangan Hj Putu Selly Andayani-TGH Abdul Manan karena dinilai memiliki strategi untuk membenahi dan memerhatikan transportasi publik di Mataram.
BELASAN sopir bemo kuning atau angkutan kota di Mataram bertandang ke kediaman Calon Wali Kota Mataram Hj Putu Selly Andayani, (11/9) lalu.

Kepada Selly Andayani, mereka berkeluh kesah tentang nasib profesi sopir dan nasib transportasi publik Kota Mataram ini.

"Kita menyampaikan keluhan-keluhan ini, terutama tentang nasib kami sebagai sopir bemo kota. Harapannya Bunda Selly ada solusi," kata Made Tjatur, salah seorang perwakilan sopir.

Dia mengatakan, saat ini kondisi angkutan umum di Kota Mataram ini sangat menyedihkan. Jauh berbeda dengan tahun 1990-an dimana bemo kota masih menjadi transportasi umum favorit di Kota Mataram.

"Penumpang semakin lama semakin sedikit. Dulu anak sekolah, mahasiswa dan pegawai masih banyak menggunakan bemo kuning. Tapi sekarang, kita hanya mengangkut pedagang pasar dan dagangannya. Sangat sepi saat ini," kata Made Tjatur yang sudah puluhan tahun menjadi sopir angkot.

Sopir lainnya, Wannaro mengatakan, saat ini bemo kuning bukan hanya harus bersaing dengan moda transportasi lain seperti taksi dan cidomo. Tetapi juga transportasi berbasis teknologi daring seperti Grab, Gojek dan sejenisnya.

Sempat jadi primadona transportasi lokal, kini bemo kota termakan usia. Penampilan tak menarik dan kondisi mobil yang rata-rata sudah cukup tua membuat masyarakat enggan memanfaatkannya. Hal ini berimbas pada ekonomi pemilik bemo dan juga para sopir bemo.

Para sopir mengaku, pendapatan mereka pun hanya cukup untuk biaya makan. Dari pemilik kendaraan, mereka wajib menyetor Rp 40 ribu perhari dan mengisi BBM angkot. Sementara jumlah penumpang terkadang tak mencukupi dengan biaya perjalanan Rp 5 ribu perorang untuk sekali naik.

"Mau alih profesi juga nggak mungkin. Keahlian kita cuma sopir angkot," imbuhnya.

Menanggapi keluhan para sopir angkutan kota itu, Selly Andayani menyatakan bahwa pasangan Selly-Manan akan memperhatikan nasib mereka. Dia menyebutkan, masalah transportasi perkotaan memang menjadi perhatian pasangan SALAM untuk mewujudkan Mataram yang berkah dan cemerlang. Sebab, kata Selly, tata kelola transportasi yang baik juga akan menambah keindahan perkotaan.

"Insya Allah, Selly-Manan akan memperhatikan keluhan saudara-saudara kita di komunitas sopir bemo kota," kata Hajjah Selly.

Dia mengatakan, ke depan harus ada peremajaan sarana transportasi bemo ini. Jumlah armada juga harus bisa diperbanyak dengan rute yang lebih variatif menyasar seluruh kawasan Kota Mataram.

Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat juga bisa tertarik dan tergerak memanfaatkan bemo sebagai transportasi umum.

"Bila perlu rute lintasan bemo kuning nantinya diperluas. Harus ada peremajaan juga," katanya seraya menambahkan, Selly-Manan mendorong agar moda transportasi bemo membentuk asosiasi untuk memudahkan pembinaan dari pemerintah.

 

Berbasis Aplikasi

 

Selain itu, Selly-Manan juga akan mendesain aplikasi digital khusus untuk transportasi umum di Kota Mataram. Aplikasi daring (online) ini akan memudahkan para penumpang dan sopir angkot dalam bertransaksi dan menjadi daya tarik bagi penumpang.

Menurut Selly, aplikasi daring juga akan digunakan sebagai wahana sopir angkot untuk menerima subsidi dari Pemerintah Kota Mataram. Subsidi tersebut berupa biaya sewa angkot dan juga biaya tarif perjalanan bagi warga Kota Mataram.

Selly kemudian mengilustrasikan, jika setoran angkot bemo per hari 40 ribu. Pemkot memberi subsidi Rp 20 ribu per hari untuk 150 angkot yang masih beroperasi. Maka subsidi pertahunnya tidak sampai Rp 1 miliar.

Subsidi untuk transportasi kata Selly bukan hal tabu bagi pemerintah. Dia memberi contoh bagaimana Pemprov NTB pernah memiliki program subsidi untuk maskapai penerbangan. Pemerintah pusat-pun memberikan subsidi kepada Damri sebagai moda transportasi umum perintis.

“Nah, skema ini akan kita terapkan untuk angkot di Kota Mataram. Tujuannya agar keberadaan angkutan umum ini tetap ada dan bisa menjadi moda transportasi publik di Kota Mataram," urainya.

Para sopir angkot merasa senang dengan harapan yang diberikan Selly Andayani. Mereka menaruh respek terhadap terobosan, ide, dan gagasan  Hj Putu Selly  Andayani yang dinilai memberikan harapan baik bagi perubahan nasib angkutan kota. (kus/adv) Editor : Administrator
#TGH Abdul Manan #Selly Andayani