Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kelurahan Dasan Cermen Juara Berkat “Satgas Keamanan Gubuk”

Administrator • Minggu, 11 Oktober 2020 | 22:09 WIB
AMAN DARI KORONA: Dua orang Satgas Keamanaan Gubuk Dasan Cermen bersama pihak kepolisian berjaga di pintu masuk wilayah setempat sebagai bagian dari antisipasi penyebaran Covid-19 di Kelurahan Dasan Cermen.( HENI UNTUK LOMBOK POST)
AMAN DARI KORONA: Dua orang Satgas Keamanaan Gubuk Dasan Cermen bersama pihak kepolisian berjaga di pintu masuk wilayah setempat sebagai bagian dari antisipasi penyebaran Covid-19 di Kelurahan Dasan Cermen.( HENI UNTUK LOMBOK POST)
Sebagai kelurahan terbaik di Kota Mataram pada Lomba Kampung Sehat, Kelurahan Dasan Cermen memiliki program yang memberikan rasa aman dan nyaman kepada warganya. Kelurahan dengan penduduk 1.580 kepala keluarga (KK) ini memiliki Satgas Keamanan Gubuk. Tugasnya, mengawasi lima lingkungan di wilayah tersebut.

---------------------------------------------

 

DI BAWAH kepemimpinan Lurah HENI Suyasih, Dasan Cermen memang benar-benar berbah wajah. Satu dari 50 puluh keluarahan di Kota Mataram ini dulu dinenal kumuh. Tapi sekarang, kelurahan peraih juara Lomba Kampung Sehat di Kota Mataram ini menjadi daerah wisata dalam berbagai bidang.

Sektor kesehatan untuk mencegah penularan dan memutus mata rantai Covid-19 kelurahan ini moncer. Sektor ketahanan pangan warganya juga dikagumi. Sementara sektor keamanan dan kelembagaan juga dua jempol. Termasuk juga bidang sektor pendidikannya top.

Kepada Lombok Post, Heni menuturkan, dirinya ingin warganya merasa nyaman dan aman di tengah pandemi Covid-19. Maka lahirlah ide membentuk “Satgas Keamanan Gubuk”. Sebuah program yang bertugas menjaga masyarakat selama pandemi.

Satgas tersebut kata Heni dibentuk Karang Taruna. Terdiri dari sembilan personel. Tugasnya mengawasi lima lingkungan di Kelurahan Dasan Cermen. Meliputi Lingkungan Dasan Cermen Barat, Timur, Selatan, Utara, dan Lingkungan Dasan Cermen Asri.

“Satgas ini terbagi dalam tiga tim sesuai kebijakan dan hasil musyawarah para kepala lingkungan,” ungkap dia.

Dari lima lingkungan dilakukan pemetaan dan evaluasi. Dimana titik rawan yang  dibutuhkan pengawasan dari Satgas. Dari hasil pemetaan, ada tiga titik rawan di Kelurahan Dasan Cermen yang menjadi fokus pengawasan. Baru kemudian dibuat pos jaga.

“Satu pos jaga ada tiga orang yang mengawasi dari satgas yang kita bentuk ini,” ujar Heni.

Sebelumnya, Heni sudah memberikan pilihan kepada masyarakat terkait menjaga keamanan di lima lingkungan. Apakah menggunakan sistem pos ronda atau yang lainnya. Namun warga memilih untuk membentuk tim “Satgas Keamanan Gubuk.”

Yang hebat, tim Satgas ini mendapat gaji. Gaji tersebut dikumpulkan secara swadaya oleh masyarakat. Masing-masing warga mengeluarkan Rp 5 ribu per bulan. “Satu Satgas dapat upah Rp 400 ribu. Sisanya jadi kas,” kata Heni.

Satgas bekerja mulai pukul 22.00 Wita. Sesuai awiq-awiq tamu harus lapor jika masuk wilayah Dasan Cermen. Bahkan satgas tidak akan memberikan izin kepada orang luar masuk wilayah dengan luas 150.047 hektare ini secara sembarangan. “Kalau ada keperluan, Satgas akan memanggilkan orang yang dicari,” ujar dia.

Dalam bekerja, para satgas dilengkapi dengan atribut. Seperti rompi yang bertuliskan Satgas Kemananan Gubuk. Begitu juga dengan sarana dan prasarana seperti senter dan pentungan disiapkan pihak kelurahan.

“Dengan seperti ini, wilayah akan aman. Tidak hanya dari kemalingan. Namun juga dari Korona,” ujar dia.

Setiap bulan kata Heni, kerja Satgas ini dievaluasi. Bahkan tim Satgas bisa diganti dari hasil evaluasi tersebut. Satgas yang terdiri dari sembilan orang tidak hanya itu saja. Melainkan bisa diganti setiap bulan. “Kalau kinerjanya tidak memuaskan bisa diganti,” tutur dia.

Tak hanya dalam bidang keamanan. Bidang kesehatan juga, kelurahan ini punya inovasi. Kelurahan Dasan Cermen menyiapkan ruang isolasi bagi warga terpapar Korona di kantor lurah. Warga yang rumahnya tidak laik menjadi tempat isolasi mandiri bisa memanfaatkan fasilitas ini.

“Ketentuan tempat tinggal laik menjadi ruang isolasi mandiri ada kriterinya. Mulai dari sisi kebersihan, kesehatan, dan kenyamanan,” ujar dia.

Namun yang paling penting dari semua itu kata Heni, dirinya bisa  memberikan edukasi kepada warga terkait pencegahan Korona. Apalagi  selama ini warga menganggap Korona adalah aib. Padahal, Korona hanya penyakit. “Karena itu, sosilisasi dan edukasi Covid-19 terus kita lakukan,” ujar dia.

Begitu juga dalam bidang pendidikan. Heni bekerja sama dengan salah satu lembaga pendidikan Alquran di lingkungan setempat. Para murid akan diberikan pemahaman terkait budidaya ikan koi yang kini digalakkan di Kelurahan Dasan Cermen. Baik itu cara merawat, memberikan pakan, maupun  cara membudidaya ikan yang dikenal mahal tersebut.

“Drainase di depan lembaga pendidikan Alquran dijadikan tempat budidaya Koi,” ujar dia. Ini sekaligus menjadi program pemberdayaan ekonomi warga.

Untuk Lomba Kampung Sehat ke depannya, Heni memberi usul agar dibagi menjadi dua. Yakni Lomba Kampung Sehat antarsesama kelurahan. Dan Lomba Kampung Sehat antarsesama desa. Sebab, jika digabung seperti saat ini, tentu kelurahan kesulitan menganggarkan dalam membuat program. Apalagi dana di kelurahan tidak bisa dianggarkan begitu saja.

“Beda dengan Dana Desa yang dikelola sendiri oleh desa,” katanya. (jay/r6) Editor : Administrator
#Kampung Sehat #Dasan Cermen