Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Anggota DPR RI Ragukan NTB Siap Selenggarakan MotoGP

Baiq Farida • Rabu, 21 Oktober 2020 | 15:10 WIB
MOTOGP: Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Hakim Bafagih (kanan) memberikan keterangan pers di restoran Taliwang H Moerad, Rabu (20/10/2020).
MOTOGP: Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Hakim Bafagih (kanan) memberikan keterangan pers di restoran Taliwang H Moerad, Rabu (20/10/2020).
MATARAM-Kesiapan penyelenggaraan MotoGP Mandalika mengkhawatirkan. Anggota Komisi VI DPR RI Abdul Hakim Bafagih menilai persiapan masih sangat minim.

”Kami belum melihat ada promosi besar-besaran di tengah masyarakat,” katanya dalam keterangan pers di restoran Taliwang H Moerad, Rabu (20/10/2020).

Hal itu diungkapkannya setelah meninjau lokasi pembangunan sirkuit di kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalika. Ia menangkap belum ada gairah dan nuansa kemeriahan menyambut event internasional MotoGP.

Kondisi itu menurutnya kurang bagus. Sebab masyarakat lokal merasa tidak dilibatkan dalam menyambut event tersebut. Padahal tahun depan balap MotoGP akan digelar di kampung halamannya.

Setelah bertanya ke dirut PT ITDC, promosi baru akan dilakukan setelah konstruksi jadi. Baginya, hal itu kurang tepat. Harusnya promosi dan pembangunan dilakukan secara beriringan.

”Promosi untuk meningkatkan awareness itu harus simultan tidak parsial,” kata Presiden Persik Kediri FC tersebut.

Dengan jawaban seperti itu, ia menangkap ada keraguan operator bisa menyelesaikan konstruksi tapat waktu. ”Di sini saya khawatir terkait penyelenggaraan MotoGP di KEK Mandalika,” tambahnya.

Penyelenggaraan Asian Games saja, promosi dilakukan dua tahun sebelumnya. Harusnya, MotoGP yang skalanya lebih besar harus dipromosikan secara masif jauh-jauh hari. Sehingga masyarakat merasakan gairahnya.

Selain itu, progres pembangunan infrastruktur pendukung juga masih sangat kurang. Baik akses jalan di luar kawasan maupun sarana penginapan seperti hotel-hotel di kawasan tersebut.

Misalnya terkait kesiapan hotel untuk penginapan bagi para tamu yang akan menonton ajang tersebut. Data PHRI menunjukkan, NTB hanya memiliki 20 ribu kamar penginapan. Sementara versi ITDC, event tersebut akan dihadiri 300 ribu tamu.

Sementara progres pembangunan Pullman Hotel milik ITDC juga masih minim. Padahal, peletakan batu pertama dilakukan sejak 2016 silam, dengan anggaran Rp 658 miliar. "Pembangunan Pullman Hotel ini sangat lambat," kata dewan dapil Jawa Timur VIII itu.

Tidak hanya Pullman, pembangunan hotel lain seperti hotel Royal Tulip, Paramount, Golden Tulip, Marriot, Aloft Hotel, Mandalika Beach Club, Marta Hotel, Grand Aston, Cocomart, dan Laza Hotel juga lambat. "Tidak ada yang selesai, hanya pembangunan SPBU dan Sea Water Reverse Osmosi SWRO (untuk air) saja," ungkapnya.

Dengan kondisi itu, ia mempertanyakan bagaimana peran ITDC selama ini dalam menuntaskan masalah penunjang KEK Mandalika. Dari sisi serapan tenaga kerja juga sangat minim. Dengan investasi besar, ditargetkan KEK Mandalika akan menyerap 587 ribu orang dan pendapatan Rp 40 triliun sampai 2025. "Ini juga menjadi sorotan anggota  komisi VI," katanya.

Ia meminta Pemprov NTB tidak diam dengan kondisi tersebut. Semua elemen masyarakat di NTB harus dilibatkan. "Sehingga semua merasa memiliki dan praevent bisa memperkuat branding Lombok Sumbawa di mata dunia," harapnya.

Terpisah, VP Corporate Secretary PT ITDC Miranti Nasti Rendranti yang dikonfirmasi belum memberikan keterangan terkait persoalan tersebut. ”Mohon tunggu sebentar. Kami sedang proses rekaman jawaban yang sudah disampaikan atas pertanyaan tersebut saat rapat,” katanya. (ili/r5)

  Editor : Baiq Farida
#Persiapan Infrastruktur #MotoGP Mandalika #ITDC #Anggota DPR RI Abdul Hakim Bafagih