Sekretaris Komisi IV DPRD NTB H Asaat Abdullah melihat rencana pemprov ini harus didukung semua pihak. “Ini rencana luar bisa,” puji politisi NasDem itu.
Persiapan menyeluruh sudah saatnya dimulai. Terutama dari penyiapan anggaran, mengingat biaya membangun jembatan itu tidak kecil. “Komunikasi dengan pusat dan investor harus dibangun,” ulasnya.
Asaat meyakini Gubernur NTB H Zulkieflimansyah akan mampu meyakinkan pemodal dan pemerintah pusat, jembatan itu kelak akan menghadirkan kemanfaatan ekonomi yang besar bagi masyarakat di NTB. “Yang terpenting adalah ikhtiar bersama, mengandalkan dana APBD memang tidak bisa, tetapi dengan dana luar (investor) maupun APBN, insya Allah bisa,” serunya.
Pemerintah di daerah dan pusat punya kepentingan sama meningkatkan taraf ekonomi rakyat. Titik temu ini diharapkan semakin memperbesar peluang jembatan dapat terealisasi.
Hadirnya jembatan yang saat ini sudah masuk tahapan Feasibilty Study atau Studi Kelayakan akan mempermudah akses masyarakat di Lombok dan Sumbawa. “Akses jalan lebih mudah dan cepat (dari pulau Lombok ke Sumbawa),” ulasnya.
Sementara terkiat pihak yang kontra atau menolak jembatan sepanjang 16,5 kilometer (km) itu dinilai bisa dan wajar. “Namun setelah mereka melihat kemanfaatannya, saya kira kita punya harapan sama,” optimisnya.
Sebelumnya, Pemprov NTB telah meneken kerja sama untuk Studi Kelayakan pembangunan jembatan Lombok-Sumbawa dengan PT Nabil Surya Persada. Studi rencananya akan dimulai bulan depan.
Jika benar teralisasi, maka jembatan ini akan menjadi jembatan terpanjang di Indonesia, mengalahka Jembatan Suramdu 5,4 km. Pemprov memperkirakan biaya pembangunan jembatan ini mencapai Rp 16,5 triliun. (zad/r2)
Editor : Administrator