Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Gawat! Budaya Warige dan Jangger Sasak Mulai Terlupakan

Kusmayadi, • Sabtu, 15 Mei 2021 | 16:41 WIB
Photo
Photo

MATARAM-Ancaman kepunahan Budaya Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat, memantik cemas. Milenial semakin melupakan kebudayaan asal. Era teknologi menyeret khazanah Sasak tergerus di ambang pintu kepunahan.


Salah satunya adalah Warige, sistem kalender atau penanggalan khas Suku Sasak. Warige kini sudah hampir tidak dikenal lagi. Padahal, sistem penanggalan leluhur ini selalu menjadi tumpuan di masa lampau.

"Kita sungguh prihatin. Sekarang Warige mulai terlupakan. Bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan akan punah," kata Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6 Bambang Mei Finarwanto, di Mataram, Sabtu (15/5/2021).
Bersama Publik Institut NTB, Mi6 menyuarakan kecemasan terhadap ancaman kepunahan penanggalan Sasak tersebut.

Sistem kalender Sasak Warige sendiri merupakan penanggalan yang berdasarkan pengamatan peredaran bintang. Identik dengan bintang pleiades atau dalam bahasa Sasak disebut Bintang Rowot.

Bintang Pleiades atau Gugus Kartika adalah sebuah gugus bintang terbuka di rasi bintang Taurus. Gugus bintang tersebut dapat dilihat dengan mata telanjang karena dekat dengan bumi.
Bambang Mei yang didampingi Sekretaris Mi6 Lalu Athari Fathulah dan Dewan Pendiri Mi6 Hendra Kesumah mengatakan, Warige digunakan untuk menentukan hari baik dan buruk. Sehingga, untuk aktivitas bertani, melaut maupun kegiatan kebudayaan dan keagamaan, masyarakat Sasak mengacu pada Warige.

Lalu Athari menambahkan, tanggalan Warige saat ini justru hanya digunakan pada acara Bau Nyale, sebuah event budaya tahunan masyarakat Sasak yang sangat kesohor hingga mancanegara. Hal tersebut menandakan sudah banyak orang mulai lupa dan tidak mengetahui cara menggunakan Warige.

"Dari generasi ke generasi, kebudayaan Sasak mulai dilupakan," ujarnya.
Padahal kata Athari, sebagai daerah wisata, NTB membutuhkan kesenian dan budaya sebagai bagian dari atraksi pariwisata. Untuk itu, Mi6 mendorong campur tangan pemerintah yang diharapkan mampu mempertahankan budaya dan kesenian Sasak.

"Jika pemerintah hanya fokus pada pariwisata semata, tanpa merawat penunjang pariwisata yang menjadi bagian atraksi seperti seni dan budaya, itu sama aja bohong," tandas Athari.

Jangger Sasak

Selain Warige, budaya Sasak lain yang yang bisa bernasib serupa dan memantik kecemasan adalah seni tari Jangger Sasak. Padahal, seni tari ini pada masanya selalu ramai digunakan saat acara hajatan. Semisal pernikahan maupun sunatan.
Saat ini, Jangger sudah mulai sepi peminat. Padahal, banyak orang menggantungkan hidup pada seni tari tersebut.

Direktur Publik Institut NTB Ahmad menuturkan, saat ini generasi milenial tidak paham arti sesungguhnya Jangger. Banyak orang yang hanya melihat Jangger adalah sebuah hiburan yang menampilkan perempuan dengan lekuk tubuh seksi menari di hadapan banyak pria.
"Padahal tarian Jangger Sasak ini memiliki filosofis yang justru sebagai bukti perempuan Sasak mempertahankan kehormatan mereka," tambahnya.

Setiap gerakan Jangger memiliki filosofis yang menandakan perjuangan perempuan menjaga kehormatannya.

Biasanya, saat perempuan menari, akan datang seorang laki-laki yang ikut menari. Terkadang tangan genit lelaki itu berusaha bersentuhan fisik dengan si penari perempuan. Dari sanalah Jangger akan mengeluarkan gerak tari mempertahankan kehormatannya. Dia memiliki gerakan menangkis tangan nakal lelaki.

Baju penari juga cukup tebal untuk melindungi dirinya. Sementara di kepala si penari terdapat perhiasan yang berbentuk tajam, yang akan mengarahkan kepada si pria saat posisi si Jangger tertekan.

Gerakan Jangger pun tak ubahnya seperti silat yang bersiap menangkis serangan. Di tangannya juga memiliki kipas yang akan menghalau penari pria yang umumnya menari sembari menyiapkan saweran.

"Bahkan, gerakan kaki si penari berbentuk kuda-kuda dalam posisi siap siaga. Itu semua memiliki filosofis bentuk perlawanan perempuan menjaga kehormatan," tambah Hendra Kesumah.
Mi6 dan Publik Institut NTB menyadari seni tari Jangger sudah mulai memasuki fase kepunahan. Itu karena peran pemerintah dinilai masih minim untuk terus mempertahankan budaya-budaya Sasak ini.

Pemerintah kata Hendra, kadang lupa, era modern yang membawa banyak teknologi dan industrialisasi. Konsekuensinya tentu ada yang akan terlupakan. Yaitu seni-budaya tradisional. Sehingga akan tenggelam bersama kemajuan zaman jika tak terurus.

Terkait adanya perubahan penari yang kerapkali berpenampilan seksi dalam seni tari tradisional maupun kontemporer Sasak, Ahmad menekankan kembali bahwa hal itu hanya soal kedewasaan masyarakat dalam menikmati seni.

"Tidak perlu dikaitkan dengan religi,” katanya sembari menekankan bahwa Seni itu murni ekspresi, bicara soal estetika. Religi itu ranah etik, sementara seni ranah estetik dan tidak berurusan dengan moral.

Kesenian memang bukan kitab suci yang akan kekal sepanjang masa. Sudah menjadi hukum alam bahwa seni punya hak untuk lahir, berkembang, dan mati. Namun, menjadi kewajiban kehadiran pemerintah untuk mempertahankan seni dan budaya tetap terus hidup.

"Jadi jangan hanya dibuat mabuk dengan modernisasi dan industrialisasi,” kata Ahmad.
Jangan sampai anak anak muda NTB menjelma menjadi anak kota yang tak tahu kampung asal lantaran melupakan seni dan budaya mereka. (kus/r6) Editor : Kusmayadi,
#Generasi Milenial #Sasak #Milenial #suku sasak #Budaya NTB #Lombok