Terhitung dari tanggal 14 Mei hingga 25 Mei, saat peringkat tersebut dirilis usai rapat terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta, NTB mencatat penambahan kasus hingga 434 orang positif covid. ”Tidak apa-apa masuk lima besar, selama masih terkendali. Dan ini masih terkendali kok,” klaim Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah.
Rohmi mengatakan, meski tetap mengalami kenaikan, pemprov bersama kabupaten/kota tidak kewalahan menangani kasus. Tidak pernah ada kejadian pasien positif covid yang tak dilayani rumah sakit. ”Tidak pernah seperti itu kan, yang sampai tergeletak di luar,” ujarnya.
Kata Rohmi, satgas penanganan covid di NTB masih concern terhadap peningkatan tracing. Ia meminta masyarakat maupun pejabat di daerah tidak alergi dengan penambahan kasus positif yang ditemukan dari hasil tracing masif.
Kondisi tersebut masih lebih baik, dbandingkan jika kasus positifnya kecil sementara angka kematiannya tinggi. ”Jangan sampai orang datang ke rumah sakit, kondisinya sudah megap-megap, sudah tidak bisa ditolong. Itu pentingnya tracing masif,” kata mantan Ketua DPRD Lotim itu.
Ia mengungkapkan, beberapa kabupaten/kota di NTB masih ada yang harus bekerja lebih keras lagi. Terutama yang angka kematian akibat covidnya, lebih tinggi dibanding rata-rata provinsi maupun pusat. Begitu juga dengan tingkat kesembuhannya, yang masih rendah.
Adapun mengenai bed occupancy ratio (BOR) atau pemanfaatan tempat tidur di rumah sakit, dinilainya masih batas wajar. ”BOR kita tinggi. Artinya apa, masih banyak ketersediaan tempat tidur di rumah sakit,” jelasnya.
Rohmi meminta kabupaten/kota untuk memahami persoalan covid secara komprehensif. Bukan hanya mengenai jumlah kasus positif aktif saja, tapi juga soal angka kesembuhan, kematian, hingga BOR.
Jika hanya fokus pada kasus positif aktif, indikator lainnya berpotensi terabaikan. Terutama pada angka kematian atau case fatality rate (CFR). ”CFR itu jumlah meninggal dibagi dengan jumlah positif. Kalau kasus disembunyikan atau tracing kecil, ya angka CFR kita tetap besar,” tutur Rektor Universitas Hamzanwadi itu.
Menurut Rohmi, tidak masalah jika ada yang positif covid. Yang penting kondisi kesehatannya baik. Jangan sebaliknya, menemukan kasus positif namun dalam kondisi berat atau parah.
”Namanya virus kapan saja kita bisa kena. Selama kena dan bisa dikendalikan, bisa sembuh dalam beberapa hari, ya tidak apa-apa,” kata Rohmi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr H Lalu Hamzi Fikri mengatakan, penanganan pandemi covid tidak boleh kendor. Upaya percepatan vaksinasi terus dilakukan. Dengan dibarengi dengan peningkatan tracing terhadap kontak erat pasien positif.
”Kita harus melawan kelelahan dan kejenuhan, dengan hampir dua tahun pandemi covid ini. Jadi tidak ada proses yang berhenti, semangat jalan terus,” kata mantan Direktur RSUD NTB itu. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita