”Sekuensing sedang berjalan. Kalau suspek kecurigaan, ya pasti ada,” kata Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah, Rabu (30/6).
Rohmi mengatakan, kecurigaan terhadap pasien yang menunjukkan gejala covid baru, bukan kali ini saja. Beberapa kasus positif juga dicurigai terpapar varian baru. Untuk membuktikannya sampel dari hasil tes usap, dikirimkan ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Kementerian Kesehatan.
Dari sejumlah sampel yang dikirim sebelumnya, hasilnya negatif varian covid baru. ”Yang sekarang juga kita kirim, tapi ke tempat yang lebih cepat prosesnya. Kalau ada (keluar) hasilnya pasti kita umumkan, kita berdoa saja bukan varian baru,” beber Rohmi.
Isu masuknya covid varian Delta di NTB beredar Selasa malam (29/6) melalui pesan WhatsApp. Isinya berisi tangkapan layar sejumlah tenaga kesehatan. Yang menjangkiti salah satu pasien di RS HK di Kota Mataram.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB dr H Lalu Hamzi Fikri mengatakan, info tersebut harus dibuktikan kembali dari sisi klinis. Caranya dengan melakukan sekuensing. Bukan berdasarkan pengamatan visual berdasarkan gejala umum pada kasus covid. ”Harus ada bukti ilmiahnya,” kata Fikri.
Pasien yang disebut terpapar covid Delta, dengan inisial AP, sebelumnya dirawat dari klinik di Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Kemudian dirujuk ke RS HK dengan keluhan sesak dan batuk. ”Sesaknya bertambah berat ketika beraktivitas. Walaupun intensitas batuk tidak sering,” ujarnya.
Di RS HK, dilakukan penanganan terhadap pasien dengan menggunakan alat bantu napas, high flow nasal cannula (HFNC). Pemeriksaan dan pemantauan terhadap AP masih dilakukan petugas kesehatan. Meski sekarang ini kondisinya perlahan membaik.
Fikri mengatakan, ada kecurigaan terjangkit varian Delta, jika dilihat dari gejala klinisnya. Namun, dikes tak ingin mengambil kesimpulan lebih dini, sebelum hasil sekuensing keluar.
”Harus kita buktikan dengan pemeriksaan golden standar dan sekuensing. Ini sedang berproses,” sebutnya.
Sebagai antisipasi terhadap varian covid, telah dilakukan pemeriksaan menggunakan tes cepat molekuler dengan hasil positif. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan menggunakan alat PCR. Yang merupakan metode gold standart atau standar utama untuk diagnosa covid. ”Hasil dari PCR itu negatif dari RSUD NTB. Hasilnya keluar 29 Juni,” ungkap Fikri.
Fikri mengatakan, selama ini sampel yang dikirimkan untuk sekuensing dengan kriteria hasil tes PCR positif dan CT Value di bawah angka 30. Meski menunjukkan hasil negatif PCR, sampel dari tes usap tetap dikirimkan Dikes ke laboratorium. Yang bisa melakukan sekuensing. Guna mengetahui apakah terdapat virus covid baru atau tidak. ”Dari sekuensing ini kita ingin memastikan. Ada atau tidak varian baru,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat tidak jangan terlalu cepat percaya kabar yang beredar. Jangan juga menimbulkan kecemasan masal.
”Yang perlu kita lakukan itu memperkuat kewaspadaan. Ini kita tunggu saja hasilnya, semoga cepat diketahui,” tandas Fikri. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita