“Itu tentu dengan harga sewa yang dipastikan murah meriah,” kata Sekretaris Mandalika Hotel Associations (MHA) Loteng Rata Wijaya pada Lombok Post, kemarin (18/1).
Dijelaskan, fasilitas dan pelayanan camping ground tentu setara dengan penginapan pada umumnya. Seperti tempat tidur, sarapan pagi, jaringan listrik, air bersih dan kamar mandi. “Tamu dipastikan nyaman, aman dan bersih,” ujarnya.
Tarif camping ground antara Rp 250 ribu sampai Rp 350 ribu per malam. Untuk satu camping ground bisa menampung dua orang.
“Bisnis ini bisa dijalankan warga pada umumnya,” pesan pengelola wisata Gunung Tunak Desa Mertak, Kecamatan Pujut tersebut.
Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disbudpar) Loteng H Lendek Jayadi menjelaskan, dari pendataan dinasnya, total kamar di seluruh Gumi Tatas Tuhu Trasna sebanyak 5.058. Sebanyak 2.292 kamar diantaranya homestay dan sarana hunian pariwisata (sarhunta).
“Kalau dihitung dengan kamar di Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Utara, Lombok Timur dan Pulau Sumbawa tidak cukup,” papar Jayadi.
Untuk itu, pihaknya menyarankan kabupaten/kota lain ikut membuka bisnis camping ground. Harapannya, tidak ada satupun penonton MotoGP yang menginap di luar Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. “Jika tidak mampu, maka bisa memanfaatkan rumah masing-masing,” ujarnya.
Dia menekankan, intinya warga NTB harus siap. “Mari kita membaca peluang dan mengambil kesempatan,” pesan pria berkumis tebal tersebut. (dss/r5) Editor : Redaksi Desain Grafis