Kurang dua bulan dari MotoGP, banyak kamar hotel bintang sudah full booked. Yusron mengatakan, ada banyak alternatif lain yang bisa dimanfaatkan penonton sebagai tempat menginap.
Masih ada kamar di hotel-hotel non bintang, homestay, sarana hunian pariwisata yang belum terisi. Potensi untuk tempat menginap lainnya berada di camping ground dan rumah penduduk.
Untuk camping ground, Yusron lebih menyarankan lokasinya di desa wisata. Sehingga bisa memudahkan penonton akan kebutuhan air bersih, toilet umum, hingga penerangan.
”Kita manfaatkan lahan kosong di desa wisata. Di sana cost lebih kecil, jika dibandingkan membuat camping ground di sekitar Mandalika,” tuturnya.
Sementara pemanfaatan rumah penduduk, bakal dimaksimalkan di desa-desa lingkar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Dispar segera berkoordinasi dengan kepala desa setempat, untuk pemantapan akomodasi penonton MotoGP. ”Kita prioritaskan dulu di sana,” katanya.
Sejauh ini, Dispar NTB telah menghitung jumlah akomodasi pariwisata di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Angkanya mencapai 22.038 kamar, sebanyak 20.223 kamar berada di Pulau Lombok dan 1.815 kamar di Pulau Sumbawa. Jumlah ini mencakup hotel bintang, melati, homestay, sarhunta, hingga camping ground.
Untuk Pulau Lombok, Kabupaten Lombok Utara menjadi yang tertinggi ketersediaan kamarnya, mencapai 6.719 kamar. Diikuti Kota Mataram 4.914; Lombok Tengah 4.286; Lombok Barat 3.132; dan Lombok Timur 1.172.
Di Pulau Sumbawa, Kabupaten Sumbawa yang paling banyak, yakni 773 kamar; gabungan kabupaten Bima dan Kota Bima 615 kamar; Kabupaten Sumbawa Barat 400 kamar; dan Kabupaten Dompu 27 kamar.
Sementara itu, Bupati Lombok Barat H Fauzan Khalid menyebut kawasan Gili Gede di Kecamatan Sekotong akan menjadi lokasi camping ground. Yang jumlahnya bisa menampung hingga 1.000 tenda untuk penonton MotoGP.
”Kita dapat tawaran dari luar daerah, mau buka tenda di sana sampai 1.000. Silakan saja, karena ini dampaknya akan sangat luar biasa,” kata Fauzan. (dit/r5) Editor : Redaksi Desain Grafis