“Itu menjadi masalah kami setiap tahunnya. Terutama musim kemarau,” keluh Sekretaris Desa (Sekdes) Kuta Mardan pada Lombok Post, kemarin (1/2).
Dikatakan, saat musim hujan, air bersih melimpah ruah. Terutama di sumur-sumur galian. Tapi, kalau sudah musim kemarau kering kerontang.
Pemerintah desa biasanya bersurat ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Loteng, bahkan ITDC guna meminta bantuan air bersih. Kemudian disalurkan kembali ke warga.
Di satu sisi, jaringan pipanisasi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Praya tidak begitu maksimal. “Mau musim hujan atau musim kemarau jaringan PDAM selalu macet,” sindir Mardan.
Namun krisis air bersih ini tidak dialami warga yang memiliki sumur bor. Hanya saja, jumlahnya bisa dihitung dengan jari karena kendala biaya.
Kendati demikian, pihaknya merasa bersyukur dan berterima kasih karena ada saja pihak-pihak ketiga yang membantu. “Seperti yang sedang kami jalankan sekarang,” kata Kepala BRI Cabang Praya Erwin Nur Himawan, terpisah.
Saat ini, pihaknya tengah membangun sumur bor. Lokasinya Dusun Mong 3 dengan kedalaman mencapai 60 meter. Anggarannya mencapai Rp 150 juta.
“Sudah termasuk sarana dan prasarana pendukung. Seperti tandon dan alat pompa. Kami berharap, pihak-pihak lain mengikuti,” saran Erwin.
Sementara itu, Plt Direktur Utama PDAM Praya Bambang Supratmo mengatakan, begitu sistem penyediaan air minum (SPAM) di Bendungan Pengga Desa Pelambik, Kecamatan Praya Barat Daya beroperasi, maka dipastikan kebutuhan air bersih bagi warga di KEK Mandalika dan lingkar KEK Mandalika aman. “Kalau tidak ada kendala, Agustus mendatang sudah rampung total,” papar Bambang.
Dia memastikan, PDAM terus bekerja keras memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. (dss/r5) Editor : Redaksi Desain Grafis