Narasumber sekaligus Dosen FK Unram Romi Ermawan mengatakan, bantuan hidup dasar diberikan kepada seseorang yang nyawanya sedang terancam. ”Harus memenuhi tiga indikasi, henti jantung atau tidak ada denyut nadi, kemudian henti napas atau tidak ada gerakan dada, dan tidak sadar atau tidak ada respons,” jelas sang dokter spesialis, pada Lombok Post.
Tahapan bantuan hidup dasar mulai dari memastikan penolong, korban, dan lingkungan dalam kondisi aman. Untuk menilai kondisi aman, yang harus diperhatikan apakah penolong bisa melakukan pertolongan dan bebas dari bahaya.
”Sebagai seorang penolong, penting untuk mengatakan, saya bisa menolongnya karena saya sudah mendapatkan pelatihan bantuan hidup dasar, ini harus dijelaskan ke orang-orang yang ada di sekitar itu,” terangnya.
Selanjutnya, memastikan korban aman. Apakah korban memiliki potensi cedera tulang leher, di sini penolong harus menilai respons korban. Untuk menilai apakah korban sadar dan apakah bernapas. Bisa dengan melakukan tepukan atau goncangan pada bahu atau tubuh korban sambil memanggil.
”Ini dilakukan secara hati-hati pada korban dengan kecurigaan adanya cedera tulang leher, kemudian penolong harus melihat dan raba apakah dada bergerak karena bernapas,” jelasnya.
Sebelum memberikan bantuan, penolong harus memeriksa kesadaran korban. ”Tentu saja dengan cara menepuk-nepuk bahunya, ini merespons atau tidak, dan apabila tidak berarti dia tidak sadar,” kata dia.
Begitu juga saat penolong menyentuh bagian dada tepat di titik jantung, saat tidak berdetak maka korban tidak bernafas. Apabila penolong saat meraba nadi di area leher juga tidak berdenyut, berarti detak jantung berhenti.
Kemudian lingkungan aman, apakah kondisi sekitar memungkinkan dilakukan pertolongan. Setelahnya, penolong mengaktifkan sistem emergency atau memanggil bantuan. ”Pada saat inilah, penolong harus melakukan simulasi agar mengembalikan fungsi jantung untuk mengembang dan memompa,” jelas Romi.
Untuk melakukan bantuan hidup dasar, harus memperhatikan beberapa tahapan. Korban dibaringkan di tempat beralas keras. Penolong memperhatikan letak kompresi dada, tepatnya di tulang dada dan setengah bagian bawah.
Selanjutnya, tekan kuat, cepat, dan konstan dengan kecepatan 100-120 x permenit menit dan kedalamannya 5-6 cm. Penolong harus memastikan complete chest recoil. Maksudnya berikan kesempatan agar dada mengembang kembali secara sempurna.
Seminimal mungkin melakukan interupsi baik frekuensi, maupun durasi terhadap kompresi dada. ”Minimalkan interupsi terhadap kompresi dada itu hanya boleh diinterupsi selama 5-10 detik pada saat melakukan cek nadi dan napas setiap dua menit atau lima siklus. Seperti itu langkahnya,” pungkas Romi.
Melalui kegiatan ini, pesepeda diharapkan mendapatkan pemahaman dan pengalaman, tentang gambaran bantuan hidup dasar.
Komang Tantra, salah seorang pegiat sepeda di Mataram mengapresiasi kegiatan ini. ”Dengan tadi dipraktikkan sama dokter-dokter di sini, kami jadi paham dan sangat beruntung bisa mendapatkan edukasi tentang bantuan hidup dasar ini,” ujarnya.
Kepala Bidang Humas RS Unram Wahyu Sulistya Affarah menjelaskan, edukasi dan pelatihan bantuan hidup dasar, merupakan wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. Terutama terkait pengabdian masyarakat dan penelitian.
”Pengabdian masyarakatnya memberikan pemahaman tentang bantuan hidup dasar, kemudian penelitiannya tentang bagaimana kerja organ jantung, karena pihak penyelenggara ini adalah dokter jantung,” terang dokter yang juga dosen FK Unram ini.
Ketua panitia Yusra Pintaningrum mengatakan, pihaknya sengaja menggelar yang menyasar pegiat sepeda. Diharapkan muncul kesadaran, risiko terkena serangan jantung bisa terjadi kapan saja, bahkan saat berolahraga.
Karenanya, edukasi tersebut tetap digelar secara berkelanjutan. Metodenya, menyebarluaskan video yang berisi tentang bantuan hidup dasar ke berbagai komunitas olahraga. Begitu juga apabila instansi pemerintah ingin mendapatkan pemahaman serupa.
”Kami dari PERKI NTB sangat siap berkolaborasi, karena sekecil apapun yang kita lakukan, harus bermanfaat bagi orang lain,” tandasnya. (yun/r9)
Editor : Baiq Farida