Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BMKG Catat Sejumlah Wilayah di NTB Sudah Dilanda Kekeringan

Rury Anjas Andita • Rabu, 3 Agustus 2022 | 10:00 WIB
KEKERINGAN: Tahun lalu kekeringan menyebabkan salah satu embung di Lombok Tengah mengering. (Dok/Lombok Post)
KEKERINGAN: Tahun lalu kekeringan menyebabkan salah satu embung di Lombok Tengah mengering. (Dok/Lombok Post)
MATARAM-Sejumlah wilayah di Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa, terpantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi telah dilanda kekeringan. Rinciannya, 13 kecamatan berada pada level siaga dan 30 kecamatan masuk waspada kekeringan.

Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi NTB Nindya Kirana mengatakan, masyarakat perlu mewaspadai bencana lain yang juga timbul dari bencana kekeringan. Seperti kebakaran hutan dan lahan. Juga suhu dingin yang bisa mengganggu aktivitas.

Untuk 13 kecamatan siaga kekeringan, berada di Kecamatan Hu’u dan Kilo di Kabupaten Dompu; Kecamatan Buer, Labuhan Pandan, dan Lape di Kabupaten Sumbawa; Kecamatan Wawo, Bolo, dan Soromandi di Kabupaten Bima.

Selanjutnya ada Kecamatan Pringgabaya, Sambelia, Sakra Barat, dan Swela di Kabupaten Lombok Timur (Lotim). Serta Kecamatan Maluk di Kabupaten Sumbawa Barat. ”Untuk antisipasi potensi kekeringan, tampungan air bisa dibuat masyarakat, terutama di wilayah rentan,” imbau Nindya.

Adapun untuk 30 kecamatan waspada kekeringan, berada di Kabupaten Dompu sebanyak empat kecamatan; Kabupaten Bima lima kecamatan; Kota Bima dua kecamatan; Lombok Barat dua kecamatan; Lombok Tengah lima kecamatan; Lotim sebanyak enam kecamatan; dan Kabupaten Sumbawa ada lima kecamatan.

Kata Nindya, dari monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) berturut-turut di NTB, masuk pada kategori menengah 11-20 hari hingga panjang 21-30 hari. Tapi, di beberapa wilayah terpantau HTH sangat panjang dari 31-60 hari. seperti kawasan Perigi, Kecamatan Suwela, Lotim hingga 58 hari.

Dengan kondisi tersebut, peluang curah hujan pada dasarian I Agustus 2022, kata Nindya, akan semakin berkurang. Untuk intensitas yang di bawah 20 mm/dasarian merata terjadi di seluruh wilayah NTB dengan probabilitas di atas 80 persen.

Sementara itu, Kalak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB Sahdan mengatakan,  sejauh ini sudah ada permintaan masyarakat untuk distribusi air bersih. Ia memproyeksikan beberapa pekan ke depan akan lebih banyak permintaan air bersih. Seiring dengan semakin panjangnya hari tanpa hujan di sebagian wilayah NTB.

Dengan kondisi tersebut, BPBD juga mengimbau masyarakat untuk bisa menampung air jika masih ada hujan. Upaya ini diharapkan bisa dilakukan warga yang tinggal di daerah-daerah langganan kekeringan.

”Bisa dibuat tempat penampungan, untuk kemudian dimanfaatkan ketika kekeringan,” katanya.

Di tahun lalu, secara total, terdapat 599.819 jiwa terdampak kekeringan di NTB. tersebar di 298 desa di 74 kecamatan terdampak di 9 kabupaten/kota. Hanya Kota Mataram, hingga Oktober 2021, yang tidak melaporkan terjadinya kekeringan.

Sahdan mengatakan, penanganan bencana kekeringan nanti akan menggunakan dana belanja tidak terduga (BTT). ”Disesuaikan dengan kebutuhan terhadap bencana nanti,” tandasnya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#BPBD NTB #bmkg #Kekeringan