”Setiap tahun kami langganan jadi korban banjir,” kata Kepala Desa Kabul Sahurim.
Sahurim mengatakan, data sementara korban banjir mencapai 48 kepala keluarga atau 137 jiwa. Tersebar di empat dusun, yakni Kangas Lauk, Kangas Daya, Pampang, dan Kending Sampi.
Banjir yang menerjang empat dusun, disebutnya akibat luapan air sungai. Debit air yang tidak bisa ditampung sungai, meluap hingga menggenangi ratusan rumah warga yang berada di pinggir.
Kondisi serupa terjadi pada tahun lalu. Juga di bulan yang sama, yakni Oktober, di masa-masa awal masuknya musim hujan. ”Kejadian di tahun sebelumnya dan yang kemarin, itu masyarakat mulai siaga. Harapannya sih tidak ada banjir yang lebih besar,” ujarnya.
Sekretaris Desa Kabul Habiburrahman mengatakan, kondisi Sungai Tebek saat ini dangkal. Kondisi tersebut membuat masyarakat was-was adanya banjir, jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. ”Kalau sudah begitu, warga siaga penuh,” kata Habib.
Menurutnya, solusi agar warga tidak kebanjiran sedimentasi di Sungai Tebek harus diangkat. Dari hulu ke hilir. Sehingga ketika terjadi hujan deras, debit air sungai tidak meluap dan membanjiri permukiman warga.
Karena itu, Habib berharap pemprov bisa segera melakukan tindakan. Juga Balai Wilayah Sungai (BWS), untuk melakukan normalisasi Sungai Tebek. ”BWS harus turun mengatasi penyebab utama banjir,” ujarnya.
Sekdes mengatakan warga yang bermukim di bantaran sungai jika mau evakuasi pindah rumah sangat mustahil. Sebab itu merupakan satu-satunya lahan yang warga miliki. ”Sehingga kalau pemerintah yang berwenang tidak memperhatikan kondisi kami, tentu kami akan terus diterjang banjir,” tandasnya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita