“Tapi revitalisasi bahasa daerah ini tidak hanya untuk daerah-daerah yang mengalami kemunduran, terancam punah saja. Justru yang masih aman pun kita tidak pernah tahu dalam 10, 20, atau 100 tahun ke depan bahasa ini masih aman atau tidak," kata Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa dan Sastra Kemendikbidristek Imam Budi Utomo usai menghadiri pembukaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) NTB Tahun 2022 di Mataram, Senin (7/11).
Menurutnya revitalisasi bahasa daerah merupakan upaya menciptakan bentuk dan fungsi baru terhadap suatu bahasa yang terancam punah.
Pada tahun 2022 ini, ada 38 bahasa daerah yang akan menjadi objek revitalisasi, tersebar di 12 provinsi. Di antaranya, bahasa Sentani di Papua, bahasa Toraja di Sulawesi Selatan, Bahasa Sasak di NTB, dan bahasa Batak dialek Angkola di Sumatra Utara.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB Aidy Furqon mengapresiasi serta mendukung penuh gelaran FTBI NTB Tahun 2022 yang kali pertama dilakukan kantor Bahasa NTB. Festival ini tidak hanya melibatkan anak-anak sekolah dasar, melainkan anak-anak berkebutuhan khusus diikutsertakan. "Mereka (anak-anak berkebutuhan khusus, red) juga harus diberikan kesempatan agar akrab dan terbiasa menggunakan bahasa ibu," katanya.
Kegiatan ini, sambungnya, diharapkan menjadi salah satu agenda yang dirindukan anak-anak sekolah. Serta dibutuhkan pengawalan dan menjadi kebiasaan dalam rangkaian kegiatan layanan pendidikan, pembelajaran yang dilakukan bersama pemangku kebijakan, tenaga pendidik dan pelaku bahasa yaitu masyarakat.
"Kita di lingkungan pemerintah juga terus menunjukkan adanya ruang dan kesempatan dalam melestarikan bahasa daerah, mengutamakan bahasa Indonesia dan menguasai bahasa asing," ucapnya.
Kepala Kantor Bahasa NTB Puji Retnowati Hardiningtyas menambahkan, festival yang diikuti ratusan peserta se-NTB itu digelar selama tiga hari, 7-9 November. Provinsi NTB sendiri memiliki sebelas bahasa daerah dengan tiga bahasa daerah suku besar yaitu bahasa Sasak, Samawa dan Mbojo.
"Kegiatan ini diharapkan mendorong generasi muda menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari. Serta meningkatkan citra penutur muda bahasa daerah," pungkasnya. (ewi/r8) Editor : Administrator