”November masih nihil kasus. Hanya ada kasus lama yang pernah kami sampaikan itu,” kata Kepala Dikes NTB dr Lalu Hamzi Fikri.
Sekitar Agustus hingga September lalu tiga anak asal NTB disebut meninggal dunia diduga akibat gangguan ginjal. Dikes kemudian melakukan verifikasi untuk memastikan penyebab meninggalnya. Hasilnya, dua dari tiga anak meninggal dunia bukan karena gangguan ginjal. ”Setelah diverifikasi tersisa satu. Ini pun kasus lama sebenarnya,” ujarnya.
Pemprov tetap mengatensi perkembangan gangguan ginjal akut pada anak di NTB. Bersama Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), dikes telah melakukan langkah preventif. Salah satunya dengan menarik puluhan ribu botol sirop yang beredar di pasaran.
Fikri menyebut hingga 10 November sebanyak 34.577 botol obat sirup telah dikarantina. Ditarik dari sejumlah sarana, seperti instalasi farmasi, apotek, klinik, rumah sakit, puskesmas, maupun toko obat.
Proses penarikan obat masih dilakukan hingga sekarang. Disesuaikan dengan instruksi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan BPOM RI atas daftar obat sirop mana saja yang dilarang beredar.
”Rilis (obatnya) dari BPOM. Insya Allah sudah dikarantina dan proses recall ini tetap berlanjut. Kalau ada temuan lagi di lapangan, tetap ditarik,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) NTB dr Nurhandini Eka Dewi mengatakan, konsumsi obat bukan menjadi satu-satunya sebab gangguan ginjal pada anak. Sehingga ia menekankan perlunya kewaspadaan serta deteksi dini terhadap gejala diderita anak, yang dalam beberapa pekan terakhir tidak pernah meminum obat sirop..
Orang tua perlu memperhatikan frekuensi dan jumlah urine anak saat buang air kecil (BAK). Jika terjadi kondisi oliguria atau penurunan volume urine, orang tua harus segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Untuk pengecekan urine saat BAK, anak yang masih berusia di bawah tiga atau dua tahun, disarankan untuk tidak memakai pampers. ”Kewaspadaan yang sederhana seperti itu. Kalau terlihat penurunan, segera lapor. Nanti akan diperiksa fungsi ginjalnya di rumah sakit,” tandas Eka. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita