"Sekitar 64 juta juta ton sampah terbuang ke laut lepas akibat masyarakat setempat membuang sampah ke drainase, sungai, dan kanal setiap hari. Hal ini sangat terkait dengan kurangnya kesadaran masyarakat, lemahnya sistem, dan infrastruktur," ucap Founder Lembaga Generasi Bintang Sejahtera NTB Febriarti Khairunnisa, Jumat (30/12/2022).
Sebab itu, selama lebih dari 13 tahun terakhir Bintang Sejahtera dengan entitas kelembagaan Generasi Bintang Sejahtera telah membantu membangun kesadaran, meningkatkan kapasitas dan memberikan pembinaan bagi masyarakat.
Guna mendorong pemberdayaan ekonomi dan pengelolaan sampah melalui pembentukan dan pendampingan lebih dari 275 jaringan Bank Sampah Desa di seluruh NTB. Semua ini tersambung dengan rantai pasokan industri daur ulang di Indonesia.
"Konsep Bank Sampah mudah diterima secara luas dikalangan masyarakat terutama masyarakat desa, karena kemampuan menggabungkan pendekatan berbasis komunitas dan pendekatan ekonomi dan bisnis," jelasnya.
Ia menuturkan, masyarakat melalui komunitas kecil diajak dan didorong untuk melihat sampah sebagai sumber daya yang dapat dijadikan komoditas ekonomi melalui pemilahan yang tertib dan teratur.
Guna mendukung tujuan tersebut, maka Bintang Sejahtera sejak tahun 2018 mengembangkan konsep pusat daur ulang, pembelajaran dan pengembangan terpadu untuk pengelolaan sampah (Recycling, learning and development center) yang disingkat Reland Center.
Namun, krisis Covid-19 yang menghantam berbagai sektor termasuk sektor industri daur ulang pada tahun 2020 membuat bisnis daur ulang sempat terhenti. Sehingga, Reland Center kemudian hanya bisa melakukan kampanye dan pembelajaran pengelolaan sampah.
Bak gayung bersambut, Reland Center mendapatkan dukungan pendanaan dari berbagai pihak di antaranya Pemerintah Selandia Baru melalui Head of Embassy Fund (HEF) 2020 dan Pemerintah Australia melalui Alumni Grant Scheme dan Allison Sudrajat Prize 2020.
"Dukungan-dukungan tersebut kemudian membantu Reland Center mampu tetap eksis di tengah pandemi menjalankan fungsi sebagai media kampanye dan edukasi baik online maupun offline untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah," ucap Khairunnisa.
Melalui bantuan dana hibah dari Head of Embassy Fund (HEF) New Zealand, kata dia, salah satu terobosan penting yang dilakukan Bintang Sejahtera selama pandemi Covid-19 berlangsung. Dengan cara, mengembangkan tutorial dan kelas virtual sehingga kampanye kesadaran, program peningkatan kapasitas, komunikasi dan layanan untuk 275 jaringan bank sampah di NTB dapat terus dilakukan.
Selain itu, dukungan dari HEF NZ juga membuat Reland Center mampu menyajikan inovasi, teknologi tepat guna dan praktik-praktik terbaik dalam penanganan sampah padat. Seperti pembuatan batako dan paving block dari limbah kaca dan plastik kemasan (residu).
Kemudian, ada laboratorium pengolahan sampah organik dimana individu dan kelompok kecil orang dapat mempelajari lebih lanjut dan melakukan praktik teknis untuk mengolah sampah organik dan anorganik.
"Dengan konsep Ekonomi Sirkular, Bintang Sejahtera dapat memonetisasi produk akhir untuk memperkuat dan mempertahankan keberlanjutan dampak sosial ekonomi dan lingkungan dari pengelolaan sampah berbasis masyarakat," pungkasnya. (ewi) Editor : Administrator