Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Ini Dia Event-Event di NTB yang Masuk Kalender Event Nusantara 2023

Rury Anjas Andita • Selasa, 31 Januari 2023 | 10:00 WIB
TRADISI TOLERANSI: Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat masuk dalam kalender event nasional tahun 2023. (Ivan/Lombok Post)
TRADISI TOLERANSI: Perang Topat di Pura Lingsar, Lombok Barat masuk dalam kalender event nasional tahun 2023. (Ivan/Lombok Post)
MATARAM-Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) mencoret Festival Tambora di Dompu dalam Kalender Event Nusantara (KEN) 2023. ”Kami coba usulkan kembali di tahun depan,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) NTB Jamaluddin Maladi.

Di tahun 2022, ada empat event di NTB yang masuk dalam KEN. Yakni Festival Bau Nyale; Festival Tambora; Festival Taliwang; dan Festival Pesona Moyo. Namun, di KEN 2023, tiga event dari Pulau Sumbawa dicoret Kemenparekraf.

Ketiga event tersebut digantikan Senggigi Sunset Jazz, Lombok Barat; Gili Festival di Desa Gili Indah, Lombok Utara; dan Festival Perang Topat di Lombok Barat. Adapun untuk Festival Bau Nyale di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah tetap masuk dalam KEN 2023.

Alhamdulillah empat event di Provinsi NTB masih masuk dalam KEN 2023,” ujarnya.

Terkait dengan dicoretnya Festival Tambora, Jamal enggan untuk mengomentarinya lebih jauh. Katanya, pemprov tetap mengusulkan festival tersebut untuk masuk dalam KEN. Tapi Kemenparekraf melalui tim independennya yang menentukan masuk atau tidaknya event dalam KEN.

Sementara itu, Sekda NTB Lalu Gita Ariadi menyebut dicoretnya Festival Tambora bukan berarti event ini tidak diselenggarakan. ”Pemprov dan Pemda tetap mengadakan. Ini kan tantangan baru bagi kami, bagaimana bisa mengkreasikan itu,” kata Gita.

Kata Gita, jika tidak masuknya Festival Tambora dianggap sebagai musibah. Maka akan ada hikmah di setiap musibah. Artinya, harus ada inovasi dalam melahirkan ide-ide acara yang lebih segara lagi.

Dicoretnya Festival Tambora bukan masalah menarik atau tidaknya acara tersebut. Ia menyebut, di awal penyelenggaraan Festival Tambora pada 2015, pemprov ingin memanfaatkan momentum dua abad meletusnya Gunung Tambora. Sehingga dilakukan promosi gegap gempita mengenalkan Festival Tambora.

Dibalik itu, ada pesan yang ingin disampaikan Pemprov NTB. Gita menyebut pemprov ingin mengangkat kawasan Teluk Saleh, Moyo, dan Tambora atau dikenal dengan Samota, sebagai destinasi investasi. Bukan sekadar destinasi wisata.

”Harapan idealnya begitu. Meningkatnya secara signifikan arus investasi ke sana,” tutur Gita.

Terlepas dari itu, Gita memastikan pemprov bersama pemda dan unsur pariwisata lainnya, akan tetap menggelar Festival Tambora. Disesuaikan dengan kondisi terkini yang terjadi. ”Ini tetap jadi komitmen kami, kalau di sana itu daerah yang potensial untuk hadirnya investasi,” tandasnya.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Baiq Ika Wahyu Wardhani mengatakan, sebagai wakil pemerintah pusat, pemprov tetap mengusulkan Festival Tambora. ”Sudah diusulkan. Termasuk Festival Moyo juga masuk dalam usulan,” kata Ika.

Dalam proses pengusulan, Kemenparekraf melakukan penilaian dengan beragam kategori. Seperti sosial budaya, dampak event terhadap lingkungan, hingga kolaborasi pemda dengan pemprov. ”Proses kurasi itu dari Kementerian langsung,” tandasnya. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita
#Kemenparekraf RI #Sumbawa #KEN 2023 #Lombok