Staf Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif mengatakan, di pertambangan tembaga, dari tiga grup besar, yakni Freeport Indonesia, Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan Merdeka Copper Gold, dua di antaranya telah berjalan pembangunan smelternya.
”Yang sudah pasti berjalan itu Freeport di Gresik dan AMMAN di NTB,” kata Irwandy dalam diskusi virtual Untung Rugi Larangan Ekspor Mineral, Senin (12/6).
Irwandy mengatakan, dasar dan aturan kebijakan pemerintah sudah sangat cukup dalam mendorong hilirisasi pertambangan. Seperti yang dicanangkan Presiden Joko Widodo. ”Jadi kami harapkan dari semua ini, bisa mempercepat pembangunan smelter,” ujarnya.
Meski sejumlah perusahaan tambang telah membangunan smelter, masih ada sejumlah kendala yang dihadapi. Dari pengamatan Kementerian ESDM, setidaknya ada empat faktor yang jadi penghambat progres smelter di lapangan. Antara lain, dana, pasokan energi listrik ke smelter, pembebasan lahan, dan perizinan.
”Kami coba mengatasi itu. Misalnya sudah ada pertemuan komprehensif dengan industri yang mengalami kesulitan dengan pihak perbankan maupun PLN,” jelas Irwandy.
Terkait kebijakan larangan izin ekspor mineral mentah, AMMAN menjadi salah satu perusahaan yang mendapat relaksasi. Disebabkan AMMAN yang telah berproses membangun smelter di Kabupaten Sumbawa Barat.
Pemerintah, kata Irwandy, tidak saja melihat progres smelter dari pengeluaran biayanya saja. Tapi juga kemajuan konstruksi fisik di lapangan. Termasuk mengevaluasi kurva-S dalam pembangunan smelter. ”Itu dilihat dari waktu ke waktu, diteliti. Termasuk anggarannya,” ujarnya.
Selain itu, tim juga diturunkan untuk memastikan progres riil di lapangan. Sehingga tidak hanya mengandalkan laporan dari verifikator independen. ”Pak menteri bahkan ikut turun. Kami cek, benar atau tidak maju sekian persennya,” kata Irwandy.
Dari catatan Kementerian ESDM, kemajuan pembangunan smelter untuk AMMAN telah mencapai 51,63 persen untuk konstruksi fisik. Dengan rencana investasi mencapai USD 963 juta, AMMAN telah merealisasikan sebesar USD 507 juta.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) NTB Sahdan mengatakan, pembangunan smelter mulai terlihat pada November 2022. Jika berjalan lancar, Desember 2024 smelter ditargetkan bisa selesai.
”Pemerintah maupun masyarakat punya harapan yang sama soal smelter ini. Kalau terbangun, geliat ekonomi akan semakin terasa,” kata Sahdan belum lama ini. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita