”Dipelihara di Balaraja, Tangerang. Nanti dijual Idul Adha tahun depan,” kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Muhamad Riadi, Rabu (12/7).
Usai Idul Adha, sekitar 2.500 ekor sapi dari Provinsi NTB tidak laku terjual. Kondisi ini mengakibatkan kerugian bagi pelaku usaha ternak. Sehingga muncul wacana untuk memulangkan kembali sapi-sapi itu ke NTB.
Kondisi tersebut diatensi Direktorat Jenderal Peternakan Hewan, Kementerian Pertanian. Yang kemudian berkoordinasi dengan Disnakkeswan. Kata Riadi, Sekretaris Ditjen akan melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak di Jabodetabek. Mengupayakan sisa hewan ternak untuk kurban, bisa diserap sejumlah BUMD. Terutama BUMD dengan skala besar.
”Terakhir itu tersisa 129 ekor. Itu yang kemudian dipelihara dulu di sana,” ungkapnya.
Riadi mengatakan, hewan ternak yang tidak laku terjual memang sebaiknya tidak kembali ke NTB. Sebab ada potensi penularan penyakit, seperti Lumpy Skin Disease (LSD) dari Pulau Jawa.
Syarat lalu lintas ternak dari Jawa menuju NTB juga cukup sulit. Mulai dari pemberian vaksin LSD hingga menjalani tes PCR individu yang biayanya mencapai Rp 400 ribu. Sapi-sapi ini juga tidak bisa langsung diberangkatkan. Harus lebih dulu menjalani karantina.
Lebih lanjut, Disnakkeswan NTB sebenarnya telah menyiapkan langkah antisipasi jika sisa hewan ternak dipulangkan. Kabid Kesehatan Hewan drh Muslih mengatakan, antisipasi LSD harus dilakukan. Apalagi hingga saat ini Provinsi NTB masih zero kasus LSD. ”Itu yang kami jaga,” kata Muslih.
Katanya, hewan ternak sapi yang kembali harus dipastikan berasal dari NTB; hewan yang pulang harus lebih dulu dilakukan vaksin LSD di tempat asal, seperti Jawa Barat dan Jakarta. ”Harus karantina juga selama 28 hari sebelum dilalulintaskan,” jelasnya.
Selanjutnya, dilakukan PCR individual terhadap hewan ternak sapi. Paling lama dilakukan sebelum diangkut atau menggunakan kapal. Sebagai bentuk kewaspadaan, harus dilakukan penyemprotan untuk mematikan vektor.
Pedagang juga harus menunjukkan surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) bebas dari penyakit hewan menular strategis (PHMS). Ternak sapi juga harus disemprot kembali dengan insektisida saat tiba di tujuan dan turun dari kapal. (dit/r5) Editor : Rury Anjas Andita