”Itu batal. Ternyata hasilnya high risk,” kata Riadi saat dikonfirmasi.
Pengajuan permohonan dari Pengelola Rumah Potong Hewan (RPH) Banyumulek PT Atra Begawan Nusantara (ABN). Permohonan memasukkan sapi eks impor ke NTB sekitar 500 ekor jenis brahman cross yang ditujukan untuk dipotong di NTB kemudian di suplai ke hotel di Bali.
Riadi mengatakan, pembatalan tersebut tidak berpengaruh terhadap stok maupun harga daging di pasaran NTB. Dilihat dar tidak adanya kenaikan harga dengan supply demand yang normal. ”Stok daging kan aman. Seimbang juga antara permintaan dan ketersediaan sehingga tidak terjadi lompatan harga,” terangnya.
Kepala bidang kesehatan hewan Disnakeswan NTB drh Muslih menjelaskan hasil analisa resiko dari tim sudah selesai sekitar pada 6 Oktober yang lalu. Dengan pengkajian dari pihak akademisi, OPD terkait,dan balai karantina. Setelah melakukan penilaian terhadap elemen-elemen seperti risiko kesehatan sapi, lingkungan, keselamatan, dan dampak ekonomi atau kesejahteraan yang akan dipengaruhi.
”Sudah kami kaji sekitar satu bulan lebih dan hasilnya, tidak dapat diabaikan,” katanya.
Sapi eks impor Australia tersebut sudah lama ada di Tangerang.Daerah tersebut saat ini berstatus tertular Lumpy Skin Disease (LSD). Sedangkan di NTB saat ini masih bebas LSD.
Merujuk pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 17 Tahun 2023 tentang Tata Cara Pengawasan Lalu Lintas Hewan. Bahwa pengiriman hewan dari daerah tertular ke daerah bebas.
Namun ada ketentuan dalam aturan tersebut yakni, dimungkinkan terjadi lalu lintas hewan dengan melakukan analisis resiko. Dan hasil dari analisa resiko adalah low risk dan dapat diabaikan.
Penyakit LSD saat ini baru menyebar di Pulau Sumatera dan Pulau Jawa. NTB mengantisipasi hal tersebut dengan tidak sembarangan menerima hewan dari daerah lain. Karena selain menular antar ternak. Juga dapat melalui vektor seperti lalat dan nyamuk. ”Untuk saat ini belum bisa. Karena nanti kalau kita positif kan tidak ada celah untuk melarang,” ucapnya. (cr-chi/r11)
Editor : Redaksi Lombok Post