LombokPost-Mengacu pada data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, sebanyak 1 dari 10 orang di Indonesia mengidap gangguan jiwa.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB Lalu Hamzi Fikri mengatakan fokus terhadap kewaspadaan gangguan jiwa juga sedang dalam upaya penanganan oleh Dinkes NTB dan tim.
“Selain bicara pernyakit menular atau tidak menular penyakit kejiwaan ini juga menjadi atensi kita,” kata Lalu Hamzi Fikri.
Hamzi mengatakan, upaya kewaspadaan ini harus datang lebih awal dari pihak keluarga.
Karena keluarga menjadi orang pertama yang lebih dekat dengan pasien. Sehingga dengan itu, pihak Dinkes NTB menyasar dengan sosialisasi ke sekolah-sekolah.
Bahayanya, anak-anak 70 persen tidak menunjukkan gejala melalui perilaku.
“Yang kita waspadai adalah ancaman bunuh diri dari anak-anak. Jadi kita sudah menyasar sampai sekolah-sekolah,” ucapnya.
Target penemuan masalah kesehatan jiwa pada tahun ini ada 60 persen.
Menurut data Dinkes NTB persentase penduduk usia diatas 15 tahun dengan risiko masalah kesehatan jiwa yang mendapatkan skrinning pada Januari sampai September menurut Aplikasi Sistem Informasi Kesehatan Jiwa (SIMKESWA) capaian grafik skrinning sampai dengan September baru mencapai 9,46 persen.
“Trennya sekarang meningkat. Kita sedikit lebih tinggi dari Bali. Secara nasional ada di angka 13 persen,” jelasnya.
Belum tercapainya target pada tahun ini disebabkan beberapa faktor. Seperti belum semua petugas puskesmas memhami cara menginput data pada aplikasi SIMKESWA.
Petugas kesehatan yang juga belum mendapatkan pelatihan Keswa dan Napza. Juga belum optimalnya skrinnning yang dilakukan.
Kemudian ditambah dengan tidak melakukan pelaporan.
Dengan itu, ia menyampaikan dalam rapat dengan seluruh kabupaten kota kita menekankan untuk mengaktifkan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TKJM).
“Kota Mataram bagus TKJM-nya. Dia sudah merangkul semua pihak untuk kalo ada kasus langsung dirujuk ke RSJ. Kolaborasinya sangat kuat. Semoga kabupaten dan kota lain bisa seperti Kota Mataram,” terangnya.
Pada tahun politik ini juga ia mewaspadai kesehatan jiwa tersebut. Dianggapnya ini menjadi momentum yang rawan akan hal itu.
Karena mayoritas dari pengidap gangguan jiwa ini sumbernya adalah faktor ekonomi.
“Sekarang ini banyak kasus orang depresi karena Pinjaman Online (pinjol). Mereka tidak bisa bayar jadi setress. Maka dari itu hati-hati,” sarannya.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) NTB dr. Yolly Dahlia, Sp.KJ mengatakan saat ini masyarakat sudah sedikit lebih paham terkait dengan gangguan kesehatan jiwa.
“Jadi banyak juga dari mulut ke mulut, dari pasien satu ke pasien lain kalau ada seperti ini langsung ke RSJ aja,” kata dr. Yolly Dahlia.
Sama dengan pernyataan, kadinkes NTB bahwa tingkat gangguan jiwa khususnya kecemasan mulai meningkat. Baik karena masyarakat yang sudah mulai paham bahwa mereka membutuhkan layanan piskologi.
Anxiety atau kecemasan biasanya menjadi gejala awal pada pengidap gangguan jiwa.
Yang awalnya hanya terjadi pada rasa cemas perasaan, jika tidak segera ditangani akan menjadi anxiety berat.
Kalau sudah begini, bisa mengganggu dan menyebabkan gejala yang lebih ekstrem.
“Awalnya hanya rasa cemas di perasaan. Lama-lama kalau tidak diobatkan bisa menganggu cara berpikir dan berperilaku,” terangnya.
Berlawanan dengan itu juga masih banyak masyarakat yang takut atau bahkan enggan memeriksa ke RSJ.
Karena mereka berpikir bahwa yang yang diperiksa di RSJ hanyalah orang dengan gejala gangguan jiwa berat.
Padahal, di RSJ juga bisa untuk cemas ringan, depresi, gangguan tidur, gangguan konsentrasi, gangguan fokus, dan ADHD pada anak.
“Dari anak umur 2 tahun itu sudah ada yang dibawa ke RSJ. Lania pun sampai umur 70 an itu ada. Biasanya mereka dimensia,” jelasnya.
Menurut hasil diagnosa data kunjungan RSJ Mutiara Sukma Januari sampai Oktober, terbanyak adalah kasus Skizofernia Paranoid dengan jumlah 6758 orang. Disusul dengan kasus gangguan cemas menyeluruh sebanyak 4622 orang.
“Biasanya yang kunjungan ini karena mereka masih membutuhkan pengobatan rutin bahkan seumur hidup. Kalau sudah membahayakan diri sendiri kami langsung rawat inap saja,” jelasnya.
Kasus bunuh diri yang marak terjadi akhir-akhir ini pun diakuinya karena gangguan jiwa yang berat. Biasanya dari Skizofernia dengan halusinasinya.
“Yang sampai bunuh diri itu biasanya karena sudah depresi berat. Ada yang memang pasien hanya ounya ide atau sampai melakukannya,” terangnya.
Dengan itu, kasus gangguan jiwa seperti ini diharapnya sangat membutuhkan dukungan orang sekitar.
Seperti keluarga, teman karib, atau lingkungan. Karena mereka orang-orang terdekat yang berinteraksi dengan korban.
“Kalau dari keluarga saja tidak ada dukungan bagaimana dengan pengobatannya. Bisa-bisa terputus dan makin menjadi,” ungkapnya.
Penemuan dan penanganan pasien gangguan jiwa ini terus diupayakan dengan meningkatkan kapasitas SDM. Dengan faskes yang sudah mampu melakukan screening awal.
“Seharusnya di puskesmas-puskesmas sudah ada ya. Nanti baru dirujuk ke RSJ,” ucapnya.
Yolly mengatakan agar setiap orang yang berisiko gangguan jiwa ini untuk tidak menyangkal kondisi tersebut.
Jika terus diulur akan menjadi berat dan membutuhkan biaya yang besar. Jika mengkhawatirkan biaya, layanan psikiater bisa menggunakan BPJS.
“Harus mawas diri lah. Jangan disangkal nanti jadi makin berat dan biaya yang dihabiskan semakin besar,” pungkasnya. (cr-chi)
Editor : Marthadi