LombokPost-Rapat koordinasi Antarinstansi dan Diskusi Kelompok Terpumpun Penyusunan Model Pembelajaran Bahasa Daerah Sasak, Samawa, dan Mbojo (Sasambo) selesai digelar Kantor Bahasa NTB, selama tiga hari dari tanggal 29-31 Januari.
Kepala Kantor Bahasa NTB Puji Retno Hardiningtyas mengatakan, kegiatan tersebut menghasilkan pedoman Pembelajaran Bahasa Daerah Sasambo, yang telah direviu dan penyusunan petunjuk teknis pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) termutakhir.
“Kami harap, pedoman yang telah disusun dan direviu untuk kedua kalinya ini telah mengakomodasi kebutuhan para guru master yang akan mengimbaskan materi sebagai bahan pengayaan pembelajaran bahasa, aksara, dan sastra Sasak, Samawa, dan Mbojo kepada peserta didik masing-masing,” terang Puji, Rabu di Mataram (31/1).
Tentu saja, pedoman ini juga dapat menjadi acuan dan referensi dalam pembelajaran muatan lokal di sekolah, dan komunitas literasi dan sastra di Bumi Gora. Di kesempatan itu, pihaknya memberi penekanan bahwa esensi Revitalisasi Bahasa Daerah bukan hanya sekadar selebrasi dalam FTBI semata.
“Kami sangat yakin para pihak yang hadir di dalam rapat koordinasi ini, tidak akan membiarkan bola panas revitalisasi berhenti di tangan guru master, tetapi berlanjut ke tangan ribuan anak-anak kita dengan pengimbasan yang masif dan menyeluruh,” terangnya.
Adapun kelestarian dan pengembangan bahasa daerah menjadi tujuan utama dan harapan bersama. “Saya mengajak para peserta untuk melakukan aksi nyata atas komitmen yang dijalankan sekarang,” tambah wanita bergelar doktor ini.
Diketahui, sebanyak 251 guru master yang telah tentukan jumlahnya dari setiap kabupaten dan kota, untuk membantu pemerintah dalam merevitalisasi Bahasa daerah Sasambo. Pembagian ini disesuaikan dengan jumlah target terimbas dan antusiasme setiap daerah.
“Kami menunggu kabar baik yang menunjukkan keterlibatan dan apresiasi atas upaya pelestarian dan pengembangan bahasa, aksara, dan sastra Sasak, Samawa, dan Mbojo dari pemerintah dan guru-guru di daerah,” tandas Puji.
Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Kemendikbudristek Imam Budi Utomo yang hadir secara daring menjelaskan, 2024 merupakan tahun ketiga pelaksanaan Revitalisasi Bahasa Daerah yang dilaksanakan di NTB.
“Program ini rencananya akan terus dilanjutkan di masa mendatang, sehingga tujuan besar pelestarian dan pengembangan bahasa dan kebudayaan daerah dapat terwujud,” kata dia.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbudristek melalui Kantor Bahasa NTB telah memberi kontribusi pengembangan bahasa. Melalui tiga program unggulan; literasi, pelindungan dan pemodernan bahasa dan sastra, dan penginternasionalan bahasa Indonesia.
“Untuk program literasi, kami telah mencetak dan mendistribusikan jutaan buku cetak ke berbagai wilayah, salah satunya NTB,” terang Imam.
Kemudian pelindungan bahasa dan sastra daerah diwujudkan melalui program Revitalisasi Bahasa Daerah. Selain itu, ada program konservasi dan pemetaan bahasa daerah dengan 718 bahasa daerah. Lalu terkait penginternasionalan bahasa Indonesia, pada bulan November 2023 lalu, bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai bahasa resmi UNESCO.
“Jika program ini dilaksanakan dengan penuh sinergi maka pelestarian bahasa daerah kita dapat dilakukan dan kita tidak akan kehilangan bahasa daerah,” pungkasnya. (yun)
Editor : Kimda Farida