Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

BPS NTB: Luas Lahan Panen Januari-April 2024 Berkurang 43,46 Ribu Hektare

Geumerie Ayu • Sabtu, 2 Maret 2024 | 12:25 WIB
ILUSTRASI: Petani Lombok Utara yang tengah panen padi di sawahnya, beberapa waktu lalu.
ILUSTRASI: Petani Lombok Utara yang tengah panen padi di sawahnya, beberapa waktu lalu.

LombokPost--Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis luas panen pada Januari 2024 ini mencapai 5,97 hektare.

Potensi panen sepanjang Februari hingga April 2024, diperkirakan seluas 109,41 ribu hektare atau dengan kata lain, total luas panen padi pada subround Januari-April 2024 diperkirakan mencapai 115,38 ribu hektare.

”Atau mengalami penurunan sekitar 43,46 ribu hektare atau 27,36 persen, dibandingkan luas panen padi pada subround Januari−April 2023 yang sebesar 158,85 ribu hektare,” jelasnya.

Berdasarkan data BPS, luas panen padi pada 2023 mencapai 287,51 hektare dengan produksi padi 1,54 juta ton gabah kering giling (GKG).

Jika dikonversikan ke beras konsumsi pangan penduduk, itu mencapai 876,27 ribu ton.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan, 287,51 hektare luas panen padi ini berdasarkan hasil survei KSA.

Jumlah ini mengalami kenaikan 17,42 ribu hektare atau 6,45 persen dibandingkan 2022 lalu.

”Tahun 2022 luas panen padi sebesar 270,09 persen,” ujarnya.

Puncak panen padi pada 2023 selaras dengan 2022, yaitu terjadi pada Maret.

Luas panen padi pada Maret 2023 adalah 73,77 ribu hektare. Sedangkan pada Maret 2022 luas panen padi mencapai 84,41 ribu hektare.

Untuk luas panen pada Januari 2024 ini mencapai 5,97 hektare.

Potensi panen sepanjang Februari hingga April 2024, diperkirakan seluas 109,41 ribu hektare. Dengan demikian, total luas panen padi pada subround Januari-April 2024 diperkirakan mencapai 115,38 ribu hektare.

”Atau mengalami penurunan sekitar 43,46 ribu hektare atau 27,36 persen, dibandingkan luas panen padi pada subround Januari−April 2023 yang sebesar 158,85 ribu hektare,” jelasnya.

Untuk produksi padi, menurut subround selama 2023, terjadi penurunan produksi padi pada subround Januari hingga April 2023.

Yaitu sebesar 45,36 ribu ton GKG atau 4,92 persen, dibandingkan periode yang sama pada 2022.

Penurunan produksi padi tersebut disebabkan karena adanya penurunan produktivitas padi pada subround Januari-April 2023.

Serta penurunan luas panen padi pada Subround Januari-April 2023 sebesar 7,46 ribu hektare atau 4,49 persen, dibandingkan periode yang sama pada 2022.

Di sisi lain, peningkatan produksi padi terjadi pada subround Mei-Agustus 2023 dan September-Desember 2023.

Yaitu masing-masing 114,84 ribu ton GKG atau 30,89 persen dan 16,12 ribu ton GKG atau 10,11 persen, dibandingkan periode yang sama pada 2022.

Pada Januari 2024, produksi padi diperkirakan sebesar 32 ribu ton GKG.

Potensi produksi padi sepanjang Februari hingga April 2024 mencapai 570,03 ribu ton GKG.

Dengan demikian, total potensi produksi padi pada subround Januari-April 2024 diperkirakan mencapai 602,03 ribu ton GKG.

Ini mengalami penurunan sekitar 274,33 ribu ton GKG atau 31,30 persen dibandingkan 2023 yang sebesar 876,36 ribu ton GKG.

Peningkatan produksi padi yang cukup besar pada 2023 terjadi di beberapa wilayah potensi penghasil padi. Seperti Kabupaten Bima, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Dompu.

”Hanya Kota Mataram yang mengalami penurunan produksi,” kata Wahyudin.

Tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG, Red) tertinggi pada 2023 adalah Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Lombok Timur.

Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan produksi padi terendah yaitu Kabupaten Lombok Utara, Kota Mataram, dan Kota Bima

Berdasarkan potensi produksi padi awal tahun 2024, kabupaten/kota dengan potensi produksi padi (GKG) tertinggi pada Januari-April 2024 adalah Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur, dan Kabupaten Sumbawa.

”Sementara itu, tiga kabupaten/kota dengan potensi produksi padi terendah pada periode yang sama yaitu Kabupaten Lombok Utara, Kota Mataram, dan Kota Bima,” bebernya.

Untuk produksi beras pada 2023 mengalami kenaikan 48,75 ribu ton atau 5,89 persen dibandingkan 2022 sebesar 827,52 ribu ton.

Produksi beras tertinggi pada 2023 terjadi pada Maret, yaitu 233,71 ribu ton. Sedangkan produksi beras terendah terjadi pada Desember, yaitu 16,38 ribu ton.

Pada Januari 2024, produksi beras diperkirakan sebanyak 18,23 ribu ton beras. Potensi produksi beras sepanjang Februari hingga April 2024 adalah 324,66 ribu ton.

Dengan demikian, potensi produksi beras pada subround Januari-April 2024 diperkirakan mencapai 342,89 ribu ton beras.

Jumlah ini mengalami penurunan 156,25 ribu ton atau 31,30 persen dibandingkan Januari-April 2023 sebesar499,13 ribu ton beras. (fer/r9)

Editor : Kimda Farida
#Luas Panen Padi #BPS NTB