Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Masih Ada Aksi Vandalisme Pendaki Gunung Rinjani, Balai TNGR Diminta Lakukan Edukasi

Habibul Adnan • Rabu, 13 Maret 2024 | 08:05 WIB

 

Para pendaki berpose di Gunung Rinjani. Sejauh ini, masih ditemukan aktivitas vandalisme dari para pendaki.
Para pendaki berpose di Gunung Rinjani. Sejauh ini, masih ditemukan aktivitas vandalisme dari para pendaki.
LombokPost-Para pendaki Gunung Rinjani diimbau untuk tidak melakukan aksi vandalisme.

Hal ini ditekankan karena tindakan corat-coret fasilitas umum, papan rute, hingga papan selamat datang di sepanjang jalur pendakian tersebut masih kerap ditemukan.

Imbauan tersebut disampaikan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) RI Alue Dohong dalam sebuah kegiatan di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), akhir pekan lalu.

Dia mengatakan, hal ini agar menjadi perhatian bersama-sama, karena tindakan itu bagian dari perusakan kelestarian alam. 

Terlebih, TNGR merupakan objek wisata pendakian yang sangat populer. Sehingga tidak etis jika ada perusakan fasilitas di sana.

"Kita berharap kesadaran kepada para pendaki, kepada siapa pun, supaya tidak melakukan hal itu karena menyebabkan mengurangi atraksi keindahan Rinjani," ujarnya.

Terkait hal tersebut, dia sudah meminta pihak Balai TNGR untuk mengedukasi masyarakat. Seperti dengan memberikan penyuluhan tentang pentingnya menjaga kelestarian alam Gunung Rinjani.

"Agar pendaki menghindari tindakan vandalisme," kata Alue Dohong.

Ade Mandala, salah satu pendaki mengaku, pernah menemukan aksi corat-coret. Tetapi dia menduga, hal ini dilakukan pendaki baru.

"Kalau pendaki lama, atau kita yang betul-betul pendaki, hampir tidak ada waktu untuk corat-coret," ujarnya. 

Sebab, pendaki yang sesungguhnya akan lebih fokus menikmati aktivitas pendakiannya tersebut.

Baca Juga: Jelang Ramadan, Warga Binaan Diimbau Jaga Toleransi dan Kondusivitas

Rata-rata pendaki juga memiliki kesadaran untuk ikut menjaga kelestarian alam di sekitar.

"Karena setiap pendaki juga punya tugas menjaga lingkungan," kata Ade.

Menanggapi adanya aksi vandalisme tersebut, Ade berharap kepada pihak TNGR untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat.

Sehingga masyarakat yang hendak mendaki mengetahui kewajiban dan hal-hal yang dilarang.

"Bila perlu ada kerja sama dengan pendaki," usulnya. 

Pria asal Desa Selebung, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah, itu menilai, sosialisasi masih kurang optimal.

Pemberian penyadaran tidak harus dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan resmi, tapi bisa dilakukan setiap saat tanpa harus ada seremonial khusus.

Dia mencontohkan yang dilakukan di Mahameru. Pendaki yang hendak naik ke puncak Gunung Semeru, akan diberikan pengarahan terlebih dahulu oleh petugas.

"Sebelum berangkat, masuk ke ruangan. Di situ dijelaskan jalur, dan pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan," katanya.

Ade menilai, ini perlu dicontoh oleh pengelola TN Gunung Rinjani. Misalnya menjelaskan struktur gunung Rinjani, serta hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pendakian.

"Seperti dikasih tahu agar dilarang mengambil air di malam hari khawatir ada harimau. Walaupun kita sebagai pendaki sudah tahu, tapi perlu diingatkan," imbuhnya.

Sejauh ini, tidak sedikit pendaki yang tidak tahu kewajibannya. Di samping vandalisme, ada juga yang masih sering buang sampah sembarangan.   

“Kasihan gunung yang begitu indah, harus rusak akibat ulah manusia, padahal kita punya andil ikut menjaga," tutup Ade. (bib/r11)

 

Editor : Marthadi
#TNGR #rinjani #pendakian #gunung #vandalisme