LombokPost-Pemprov NTB telah menetapkan status 11 kawasan strategis di Bumi Gora.
Kebijakan ini sebagai upaya pemda untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui investasi, yang faktor pendorongnya non tambang.
”Sebab semua proses pembangunan saat ini, harus berdasarkan prinsip yang memperhatikan semua aspek,” terangnya, saat ditemu, Selasa (14/5).
Pemetaan terhadap 11 kawasan strategis tersebut di antaranya Mataram Raya-3 Gili DSK merupakan integrasi kawasan berbasis sektor ekonomi unggulan perdagangan-jasa, industri, pariwisata, dan perikanan mencakup Kota Mataram, Lombok Barat, dan Lombok Utara.
Kuta Mandalika dan sekitar, merupakan kawasan pariwisata, perikanan dan industri berbasis potensi sumber daya alam yang mendukung KEK Mandalika di Lombok Tengah.
Kawasan Industri Sumbawa Barat, kawasan pendukung dan penyangga Kawasan Industri Maluk berbasis sektor unggulan pertambangan dan industri turunannya, perikanan, serta pariwisata.
Agribisnis Pototano-Gili Balu, merupakan kawasan agribisnis dengan sektor unggulan agroindustri, perikanan, peternakan, dan pariwisata meliputi Sumbawa Barat dan Sumbawa.
Berikutnya, Puncak Ngengas-Selalu Legini, adalah kawasan dengan nilai konservasi tinggi berbasis mitigasi bencana mencakup Sumbawa dan Sumbawa Barat.
Teluk Saleh-Moyo-Tambora (Samota) adalah Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT).
Berbasis sektor perikanan, pariwisata, pertanian, peternakan, dan industri, meliputi Sumbawa, Dompu, dan Bima.
Selanjutnya, Ekosistem Gunung Tambora, merupakan kawasan geoedukasi, geoheritage, dan geowisata yang berbasis keragaman geologi (geodiversity), keragaman hayati (biodiversity) dan keragaman budaya (cultural diversity) meliputi Dompu dan Bima.
Teluk Cempi-Hu’u adalah kawasan pertumbuhan baru dengan sektor unggulan pariwisata, perikanan, industri, pertambangan dan energi mencakup Sumbawa dan Dompu.
Kemudian, Ekosistem Hutan Parado, ini adalah kawasan penyangga dan perlindungan tata air meliputi Dompu dan Bima.
Teluk Bima DSK merupakan kawasan pariwisata, perikanan. industri, serta perdagangan dan jasa yang berwawasan lingkungan dan berbasis kemasyarakatan, mencakup Bima, Kota Bima, dan Dompu.
Terakhir, ada Waworada Sape adalah kawasan Kawasan pertumbuhan baru di wilayah timur berbasis sektor perikanan, pariwisata, dan industri.
”11 kawasan ini yang sudah diproyeksikan dapat mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat, jadi kita mulai pembangunan ini harus betul-betul mengacu kepada penentuan kawasan strategis yang sesuai dengan potensi, dan karakteristik masing-masing,” jelas Iswandi.
Dengan adanya penetapan ini, pembangunan yang akan hadir di kawasan tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan.
”Apapun fasilitas pendukung yang akan dibangun untuk mendukung kawasan tersebut, harus dibangun secara bertahap, terutama memperhatikan pelestarian lingkungan,” ujarnya.
Di sisi lain, penetapan 11 kawasan strategis di NTB menjadi harapan pemerintah untuk meningkatkan sektor perekonomian non tambang di atas 7 persen setiap tahunnya.
”Kawasan ini sekali lagi telah kami proyeksikan memiliki daya ungkit ekonomi bagi masyarakat, dan bisa mendatangkan investasi,” katanya
Terkait rencana pengembangannya, Bappeda NTB dan pihak terkait, saat ini terus merincikan tata ruang serta fungsinya, kemudian apa saja fasilitas pendukung yang harus dibangun.
Tentu ini harus didukung juga dengan Perda RTRW.
”Dalam bulan ini, revisi perda itu akan diundangkan, sudah dievaluasi oleh pusat dan itu akan diikuti oleh pemda kabupaten kota untuk merubah perda RTRW-nya, sehingga dalam mengarahkan pembangunan kedepannya lebih tepat sasaran, fokus, dan meningkatkan nilai tambah di tiap-tiap kawasan itu,” pungkasnya.
Terpisah, Plt Kepala DPMPTSP NTB Wahyu Hidayat mengatakan kehadiran 11 Kawasan Strategis NTB sangat sesuai dengan arahan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mendorong setiap daerah di Indonesia, untuk mengembangkan investasi itu ke non tambang.
”Ini juga sejalan dengan arahan pusat, bagaimana mulai tahun 2024, penyumbang dari nilai investasi itu lebih banyak non tambang, karena investasi jenis ini akan langsung menyentuh ke masyarakat, dan jelas ini berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi,” jelasnya. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida