Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Masa Pancaroba, Ancaman KLB DBD di NTB Sudah di Depan Mata

Yuyun Kutari • Rabu, 3 Juli 2024 | 16:10 WIB
dr Lalu Hamzi Fikri. (YUYUN/LOMBOK)
dr Lalu Hamzi Fikri. (YUYUN/LOMBOK)

LombokPost-Di masa pancaroba, rawan akan hadirnya berbagai penyakit.

Salah satu yang diwaspadai adalah Demam berdarah dengue (DBD).

Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) dr Lalu Hamzi Fikri mengungkapkan data terbaru mencatat kasus DBD di Bumi Gora telah menyentuh angka 2.295 kasus.

”Ini tersebar di 10 kabupaten dan kota se-NTB,” terangnya, Selasa (2/7).

Rinciannya, 364 kasus di Mataram, 549 kasus di Lombok Barat, 158 kasus di Lombok Tengah, 140 kasus di Lombok Timur, 359 kasus di Lombok Utara, 225 kasus di Sumbawa Barat, 291 kasus di Sumbawa, Dompu 83 kasus, Bima 75 kasus, dan terakhir Kota Bima 51 kasus.

Dari kejadian ini, sudah 5 orang dinyatakan meninggal dunia selama periode Januari hingga Mei 2024. Dikes NTB telah mengeluarkan Surat Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus DBD sejak awal Februari yang ditujukan bagi Dinas Kesehatan kabupaten/kota se-NTB.

“Ini tujuannya untuk meningkatkan kesiapsiagaan setiap daerah menghadapi potensi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD,” terang mantan direktur RSUP NTB ini.

Imbauan tertulis juga telah diberikan kepada seluruh puskesmas dan desa.

Pihaknya mendistribusikan logistik untuk kegiatan pencegahan, pengendalian seperti insektisida, larvasida, dan alat pengendalian, serta alat diagnosa DBD yakni RDT NS1 Combo.

Berikutnya, melakukan kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) bersama seluruh Puskesmas secara serentak dan berkala.

Berkoordinasi dengan desa serta aparat terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit DBD dan memonitoring kegiatan PSN di masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Roah Bedugulan di Desa Kayangan, Arak Gunungan Hasil Panen ditutup Zikir dan Makan Bersama

Pemberian larvasida di seluruh rumah dan sekitarnya yang telah disurvei juga tetap dilakukan.

Puskesmas juga melakukan sosialisasi ke masyarakat melalui posyandu, pertemuan di kantor desa dan sekolah terkait pencegahan DBD.

”Kami layanan kesehatan bergerak cepat dalam merespons setiap peringatan yang muncul di Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) melalui tindakan penyelidikan epidemiologi kurang dari 1x24 jam,” jelas Fikri.

Dari situasi ini, Dikes NTB merekomendasikan bahwa dalam penanganan kasus DBD, meningkatkan deteksi dini kasus di fasilitas kesehatan dari puskesmas, klinik, dan RS dengan memanfaatkan RDT NS1 yang sudah didistribusikan.

“Kami juga melaksanakan surveilans ketat sampai peningkatan kasus berakhir, melakukan PSN 3M Plus yang benar, tepat dan maksimal, serta melakukan evaluasi terhadap pelaksanaannya,” tegas dia.

Dilakukan pula peningkatan dan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) secara masif, melakukan survei vektor 1 bulan sekali, koordinasi lintas sektor dalam pelaksanaan PSN dan evaluasinya, peningkatan sensitivitas surveilans DBD baik terhadap kasus maupun vektornya.

Kepala Dikes Mataram dr Emirald Isfihan mengatakan saat ini yang diperlukan adalah gerakan yang cepat dan tepat.

Caranya adalah mengantisipasi pengembangan jentik nyamuk. “Jentik nyamuk itu kan bisa berkembang karena ada genangan air bekas hujan,” kata dia. 

Jika ada laporan kasus DBD, warga diminta melapor. Nanti akan ditindaklanjuti petugas di lapangan. (yun/r11)

Editor : Kimda Farida
#DBD #pancaroba