LombokPost-Kekeringan melanda sebagian besar wilayah Bumi Gora.
Itu terlihat dari 9 kabupaten dan kota, sebanyak 5 daerah sudah ditetapkan dengan status siaga darurat kekeringan, dan 2 daerah tanggap darurat kekeringan.
“Kita mulai memasuki puncak kekeringan,” terang Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB H Ahmadi.
Untuk kondisi saat ini, distribusi air bersih masih dilakukan oleh BPBD kabupaten dan kota, dibantu oleh pihak-pihak terkait.
“Jadi teman-teman di kabupaten dan kota masih bisa menangani distribusi air terlebih dulu,” ujarnya.
Sementara, rembuk distribusi air bersih yang melibatkan seluruh pihak, mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi hingga pemerintah pusat, diperkirakan berlangsung Agustus, lantaran di saat itu, BPBD memprediksi bahwa Bumi Gora sudah berada di puncak bencana kekeringan.
“Eskalasi kekeringan ini di Agustus, sudah banyak kawasan-kawasan yang harus segera didistribusikan air bersih kepada masyarakat, semua kita bergerak, provinsi, kementerian, dari CSR-CSR perusahaan,” tegas mantan sekretaris Dinas PUPR NTB tersebut.
Disinggung pengajuan anggaran Biaya Tak Terduga (BTT), untuk penanganan bencana kekeringan tahun ini, Ahmadi masih irit bicara.
Ia hanya berharap ada penambahan atau kenaikan dari sebelumnya. Jika tidak, anggaran itu di angka yang proporsional.
Berkaca dari distribusi air secara reguler yang dilakukan pada awal memasuki bencana kekeringan, BPBD NTB merogoh kocek hingga Rp 35 juta untuk 100 tangki air bersih.
Namun, saat bencana kekeringan kian meluas seperti sekarang, jelas membutuhkan alokasi dana yang lebih dari itu.
“Saya nggak bisa katakan berapa angka yang diajukan, takut nanti kalau sebut besarannya, yang ada malah kecil realisasinya, jadi sekarang harapannya anggaran yang diberikan itu setidaknya bisa proporsional,” jelas dia.
Kini, surat resmi permintaan pencairan BTT untuk penanganan bencana kekeringan, sudah berada di meja Pj Gubernur NTB Hassanudin.
“Kita tunggu saja ya, tinggal di tanda tangani saja,” tandasnya.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Restu Patria Megantara mengungkapkan pada dasarian III Juli terhitung dari 21 – 31 Juli 2024 diprediksi terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, yang hanya terjadi di wilayah Sumbawa Barat dan Sumbawa bagian selatan, serta wilayah Kota Mataram, sebagian Lombok Barat hingga Lombok Utara.
Sementara itu untuk wilayah NTB lainnya potensi hujan sangat kecil. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida