Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Miliki KEK Mandalika, Loteng Belum Bisa Jadi Daerah Penyumbang Investasi Terbesar di NTB

Yuyun Kutari • Rabu, 7 Agustus 2024 | 15:55 WIB
FASILITAS LENGKAP: Dilengkapi sirkuit berstandar Internasional, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya, KEK Mandalika terus didorong. (IVAN/LOMBOK POST)
FASILITAS LENGKAP: Dilengkapi sirkuit berstandar Internasional, dan berbagai fasilitas penunjang lainnya, KEK Mandalika terus didorong. (IVAN/LOMBOK POST)

LombokPost-Geliat penanaman modal di NTB masih berjalan sebagaimana mestinya.

Selama pemaparan yang disampaikan Plt Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Wahyu Hidayat, nilai realisasi investasi di NTB terhitung mulai Januari- Juni atau semester I 2024, telah menyentuh angka Rp 25,5 triliun

”Kalau kita rincikan ke dalam triwulan, maka di triwulan I yakni Januari-Maret, nilai realisasi investasi kita sudah Rp 8,8 triliun, dan di triwulan II April-Juni sudah Rp 16,7 triliun,” terangnya, Selasa (6/8).

Adapun nilai investasi yang ditarget RPJMD Provinsi NTB Tahun 2024 sebesar Rp 25,4 triliun, sedangkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI menetapkan target nilai investasi untuk NTB sebesar Rp 26,9 triliun.

”Kita telah melampaui Target RPJMD Provinsi NTB Tahun 2024 sebesar Rp 25,4 triliun atau 100,1 persen, sedangkan yang dari pusat sudah 95 persen, sisa di 5 persen di semester II akan kita upayakan lagi,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya tidak akan berpuas diri. Dalam artian, ketika telah mencapai target yang ditetapkan, maka tidak akan berhenti.

”Kami akan berkolaborasi dengan Kementerian Investasi, termasuk dengan teman-teman pelaku usaha, media, bagaimana realisasi di NTB ini semakin meningkat dan baik, dari waktu ke waktu,” terangnya.

Ada sejumlah catatan yang masih menjadi perhatian DPMPTSP NTB. Jika nilai realisasi investasi pada semester I, dirincikan berdasarkan wilayah kabupaten dan kota.

Maka urutannya, Sumbawa Barat telah menyumbang nilai realisasi investasi sebesar Rp 21,9 triliun, Kota Mataram Rp 654 miliar, Sumbawa Rp 601 miliar.

Lombok Utara Rp 595 miliar. Dompu Rp 524 miliar. Lombok Tengah Rp 510 miliar.

Lombok Timur Rp 323 miliar. Lombok Barat Rp 268 miliar. Kota Bima Rp 68 miliar, dan Bima Rp 57 miliar.

Berikutnya, tiga sektor penyumbang nilai realisasi investasi paling tinggi.

Ada sektor ESDM menyumbang Rp 18,4 triliun, Perindustrian 4,7 triliun, dan Pariwisata Ekonomi Kreatif di Rp 1,2 triliun.

Ketika sudah dirincikan, Wahyu melihat ada tiga kabupaten dan kota, dengan nilai realisasi investasi yang selalu dipertanyakan.

Seperti Lombok Tengah, tidak masuk ke tiga besar nilai realisasi investasi tertinggi di NTB.

Padahal, di wilayah yang dikenal dengan sebutan Gumi Tatas Tuhu Trasna itu, ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika.

Pembangunannya dihajatkan agar geliat investasi dan pertumbuhan ekonomi meningkat. Tetapi ternyata belum mampu.

”Karena statusnya sebagai destinasi super prioritas maka pengelolaannya lebih spesial dan eksklusif, proses perizinan, promosi, kerja sama itu memang handle di internal ITDC, bukan menjadi ranah kami,” terangnya.

Meski begitu, ITDC tidak juga berdiam diri. Apa yang dilakukan perusahaan plat merah KEK Mandalika sampai saat ini, terus melakukan promosi potensi yang ada.

“Mereka masih menjual, kalaupun ternyata ada yang kena, itu mungkin tidak bisa langsung dieksekusi di tahun berjalan,” kata Wahyu.

Mereka juga sedang mengevaluasi kembali proses penyelenggaraan investasi yang sudah berjalan.

”Makanya di satu sisi mereka mencoba menggaet investor dengan menggelar berbagai macam event balapan nasional dan internasional. Salah satunya MotoGP,” jelas dia.

Masih kurangnya investasi di KEK Mandalika, tentu menjadi catatan bersama. Memang dibutuhkan strategi baru, untuk menyebarkan berbagai macam potensi yang ada.

”Mendatangkan dan mendapatkan kepercayaan investor baru di NTB, mudah-mudah sulit, jadi berikan waktu kepada mereka untuk menunjukkan segala daya dan upaya, sehingga apa yang diharapkan bisa tercapai,” tegasnya.

Wilayah lainnya, dengan nilai realisasi investasi rendah, yaitu Bima dan Kota Bima.

“Kami mengakui dua daerah ini minim terus kontribusi realisasi investasi di NTB,” jelas Wahyu.

Ia tidak menjelaskan mengapa alasannya. Lebih dari itu, DPMTSP NTB akan berfokus pada rencana yang akan dilakukan pada semester II ini. Yaitu, menyusun peta potensi.

”Ini salah satu strategi. Mungkin kita akan berkolaborasi dengan pemkab dan pemkot, apa potensi yang ada di sana. Kemudian peluang apa yang bisa kita kembangkan. Jadi dari sanalah kita akan berangkat menawarkan itu supaya bisa bangkit,” tandasnya.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengakui sektor tambang masih memberikan sumbangsih paling besar bagi pertumbuhan ekonomi NTB. Adapun ekonomi NTB dengan tambang mengalami kontraksi sebesar 1,36 persen, dan tanpa tambang 0,81 persen (q to q). (yun/r11)

Editor : Kimda Farida
#NTB