LombokPost-Kesadaran dan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana menjadi pembelajaran berharga yang bisa diambil saat gempa Lombok Utara 2018 silam.
”Ini sangat penting dan kami berharap program Desa Tanggap Bencana (Destana) harus dianggarkan di desa yang memiliki potensi bencana,” kata Project Manager Destana Konsepsi di KLU Hairul Anwar pada Lombok Post.
Hairul menjelaskan, program Destana bisa berupa pelatihan kesiapsiagaan, simulasi serta pemasangan rambu bencana yang harusnya diperbanyak.
Simulasi yang dimaksud harus rutin dan secara keberlanjutan agar pemerintah desa dan masyarakat tidak lupa, paling tidak satu tahun sekali dilaksanakan.
”Ini intisari dari ketangguhan itu, pada saat tidak ada bencana harus ada persiapan, kesiapsiagaannya dan lainnya,” tuturnya.
Masyarakat harus mengetahui jalur penyelamatan dan tempat mengungsi sebab mereka yang paling rentan dengan bencana.
”BPBD fungsinya mengawasi dan membina desa untuk peningkatan kesiapsiagaan tersebut,” tambahnya.
Masyarakat juga bisa belajar membangun rumah yang tahan gempa untuk antisipasi potensi gempa bumi.
Menurutnya, dalam sebuah bencana hampir dipastikan menimbulkan korban tapi dengan mengelola risiko paling tidak bisa dikurangi jumlahnya.
”Risiko itu bisa masuk korban sebagai manusia maupun infrastrukturnya, ekonomi, sosial budaya, dan alamnya. Karena bencana tidak bisa kita cegah. Yang bisa kita cegah dengan mengurangi risikonya,” terangnya.
Sementara itu, Dosen Prodi Magister Manajemen Mitigasi Bencana Unram Eko Pradjoko mengatakan gempa 2018 silam harus menjadi pembelajaran.
Masyarakat banyak yang tidak menerapkan pedoman pembangunan rumah tahan atau ramah gempa.
Mengenai kejadian gempa yang bisa terulang di masa mendatang maka pascabencana 2018 penerapan pedoman tersebut perlu terus diupayakan dengan berbagai cara.
Seperti penegakan dan pengawasan peraturan atau hukum, pendidikan, sosialisasi, bantuan subsidi, dan lainnya.
”Pengalaman penanganan tanggap darurat beserta rehab-rekon perlu dicatat dan didokumentasikan dengan baik agar menjadi bahan pembelajaran generasi berikutnya dalam menangani bencana,” ujarnya.
Tim atau komunitas peduli pengurangan risiko bencana (PRB) perlu dibentuk dan selalu dilatih serta dibina untuk menghadapi bencana yang akan datang.
Ini dalam rangka mengurangi dampak bencana seminimal mungkin.
Masa tanggap bencana dan rehab-rekon (paska bencana) telah selesai, sehingga yang terpenting sekarang memasuki masa pencegahan dan mitigasi (pra bencana) yang harus selalu diisi dengan berbagai kegiatan mitigasi untuk menghadapi bencana yang akan datang.
”Salah satunya adalah peningkatan pendidikan tentang kebencanaan di semua lapisan masyarakat terutama generasi muda mengingat rentang waktu antarbencana yang sangat panjang,” kata dia. (nur)
Editor : Kimda Farida