LombokPOst – Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi NTB dan ICLEI Indonesia menggelar pelatihan peningkatan kapasitas bagi pengembangan proyek energi baru terbarukan (EBT). Kegiatan tersebut bertujuan untuk mempercepat transisi menuju energi terbarukan di Provinsi NTB.
Kepala Dinas ESDM NTB, H. Sahdan, ST, MT, menyatakan, Provinsi NTB telah menetapkan regulasi penting melalui Perda Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Energi dan Tenaga Kerja dan Perda Nomor 3 Tahun 2019 tentang Rencana Umum Energi Daerah.
Provinsi NTB menargetkan pencapaian energi terbarukan pada tahun 2050. Atau sepuluh tahun lebih awal dibanding target nasional yang ditetapkan pada 2060. Salah satunya melalui pengembangan potensi tenaga surya yang sangat besar di NTB untuk memenuhi kebutuhan listrik.
“Kami sudah memiliki regulasi yang mendukung tentang pengelolaan energi. Tujuan kami adalah mewujudkan bauran energi seimbang pada tahun 2025, memaksimalkan peran sumber energi terbarukan, dan mengurangi ketergantungan pada BBM,” kata H Sahdan membuka pelatihan yang digelar di Aston Inn Mataram.
Sahdan juga mengungkapkan bahwa NTB sedang mencari bantuan dari Denmark untuk membangun pabrik gas dengan investasi senilai Rp 1,6 triliun. NTB juga berusaha belajar dari berbagai negara tentang pengelolaan sampah dan persiapan infrastruktur guna menarik investor untuk memaksimalkan potensi energi terbarukan.
“Tantangan utama yang dihadapi adalah pengembangan teknologi penyimpanan energi. Seperti baterai untuk mendukung PLTS dan memastikan pasokan listrik yang konsisten,” katanya
Sahdan juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan PLN dan pihak terkait. Agar proyek-proyek energi terbarukan dapat berjalan lancar dan mendukung penghematan devisa negara.
“Saat ini, tantangan terbesar kami adalah infrastruktur dan teknologi, terutama dalam hal penyimpanan energi,” jelasnya.
PLTS akan lebih efisien jika didukung dengan teknologi baterai yang memadai. Tanpa teknologi baterai akan kesulitan memenuhi kebutuhan listrik secara konsisten. Meski potensi energi angin dan laut sangat besar, teknologi untuk memanfaatkannya masih mahal.
Country Manager ICLEI Indonesia Arif Wibowo menekankan pentingnya memahami dan menjembatani komitmen global terkait perubahan iklim. Hal ini berdampak pada berbagai sektor, termasuk nelayan dan petani yang kesulitan memprediksi kondisi cuaca.
Dijelaskan, nelayan sering kali tidak bisa memprediksi jadwal melaut. Petani ragu apakah mereka akan mendapatkan air untuk sawah mereka.
“Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk membantu masyarakat terdampak perubahan iklim. Serta pentingnya peran pemerintah, akademisi, dan industri dalam menghadapi tantangan tersebut,” katanya.
Arif juga mengungkapkan bahwa panduan akses pendanaan untuk mendukung upaya keberlanjutan lingkungan sedang disusun. “Kami menjadi bagian dari gambaran besar tentang bagaimana mengisi kekosongan dan menjembatani komitmen global terkait perubahan iklim yang telah berdampak luar biasa,” jelasnya.
Sementara itu, pelatihan tersebut dirancang untuk memperkuat kemampuan lokal dalam mengembangkan proyek-proyek energi terbarukan, khususnya PLTS atap.
Sebanyak 45 peserta dibekali pengetahuan mengenai berbagai aspek penting, mulai dari dasar-dasar energi surya, studi pra-kelayakan dan kelayakan (Pre-FS dan FS), model bisnis, peluang pembiayaan, hingga pemasangan, operasi, dan pemeliharaan PLTS.
Pelatihan ini bertujuan memperluas jaringan pemangku kepentingan lokal guna menciptakan ekosistem bisnis PLTS yang kuat di NTB. Sehingga NTB semakin mantap dalam upaya mencapai target energi terbarukan 100 persen pada tahun 2050.
Kerja sama antara Provinsi NTB dan ICLEI Indonesia sejak 2019 telah menghasilkan berbagai inisiatif untuk mendorong transisi energi.
Proyek peta jalan kota dan wilayah 100 persen energi terbarukan (100% RE) menjadi dasar peningkatan kesadaran dan kapasitas lokal mengenai energi terbarukan. Serta penciptaan kerangka kebijakan pendukung dan mengeksplorasi akses pembiayaan dari sektor publik dan swasta.
Di Provinsi NTB, proyek 100% RE ini melibatkan berbagai pihak. Termasuk pemerintah daerah, universitas, sekolah kejuruan, bengkel lokal, dan organisasi masyarakat sipil.
Salah satu pencapaian penting adalah pengembangan proyek yang siap dibiayai, yakni di Puskesmas Karang Taliwang, Mataram, yang mendukung penerapan energi bersih 100% di bangunan tersebut. (lil)
Editor : Haliludin