LombokPost--Permasalahan pertanian-peternakan semakin kompleks di masyarakat. Salah satunya permasalahan limbah kotoran sapi.
Namun persoalan ini perlahan bisa diatasi dengan pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk kompos.
"Tahun 2021 lalu, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Nahdlatul Wathan (UNW Mataram) berhasil membangun tiga instalasi biogas di Desa Batu Kuta Lombok Barat," ujar Ketua Tim PKM UNW Mataram Dr. Abyadul Fitriyah, MP.
Hingga saat ini, biogas tersebut masih aktif beroperasi dan dimanfaatkan oleh petani peternak di desa mitra ini.
Tindak lanjut dari kegiatan tersebut, pada tahun 2024 ini tim PKM UNW Mataram bekerja sama dengan Tim PKM Unram kembali membuat inovasi terbaru.
Tim PKM berhasil membuat alternatif solusi penanganan penyakit tanaman dengan menciptakan pestisida bioslurry yang berasal dari limbah gas kotoran sapi yang diberi nama Pestisida Bioslurry Plus.
"Penggunaan pestisida bioslurry plus ini bertujuan untuk memanfaatkan limbah buangan biogas dari kotoran sapi yang memiliki kandungan unsur hara makro dan mikro yang cukup tinggi, seperti kandungan N, P2O5, K2O, dan Ca serta unsur hara lainnya," jelasnya.
Desa Batu Kuta diketahui sebagai kawasan lahan yang sudah biasa ditanami tanaman palawija, jagung dan kedelai, serta beberapa tanaman padi, sayuran dan holtikultura.
Namun dalam budidayanya sering mengalami kendala penyakit tanaman jagung dan kedelai seperti adanya gejala bulai, layu stewart, bercak daun, karat, busuk pelepah, busuk batang, busuk tongkol dan gosong palsu serta diserang hama.
Mulai dari hama penggerek batang, ulat grayak, penggerek tongkol jagung, lalat bibit, dan kumbang bubuk yang dapat menyebabkan gagal panen.
Pestisida inilah yang digunakan untuk mengatasi dan memberantas gejala hama dan penyakit pada jagung dan kedelai.
Pestisida bioslurry plus dijelaskan dibuat dari limbah biogas kotoran sapi yang ditambahkan suplemen bahan tanaman yang ada di daerah lokasi pengabdian yaitu daun sirsak (Annona muricata L.).
Diperkaya dengan Bacillus subtilis sebagai bakteri yang mampu mengendalikan penyakit dan meningkatkan kesuburan tanah.
Ini bisa meningkatkan hasil produksi atau hasil panen yang aman, ramah lingkungan yang tentunya secara tidak langsung akan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Kegiatan PKM ini dimulai pada akhir Bulan Juli hingga September 2024. Tim PKM UNW Mataram - Unram bersama Masyarakat Desa Batu Kuta telah berhasil membentuk dapur industri pestisida berbasis bioslurry diperkaya B. subtilis sebagai usaha untuk meningkatkan pendapatan kelompok tani mitra.
"Tetapi saat ini masih dalam proses uji coba penggunaan atau penyemprotan pestisida berbasis bioslurry pada tanaman jagung dan kedelai," lanjutnya.
Tim PKM UNW Mataram diketahui berjumla 15 orang. Terdiri dari 11 orang tim dosen yang diketuai oleh Dr. Abyadul Fitriyah, S.Pt., MP., Ria Harmayani, S.Pt., M.Si., Alimuddin, S.Pt., M.Si, Yuni Mariani S.ST., M.P., Ni Made Andry Kartika, S.Pt., M.Si., Nefi Andriana Fajri, S.Pt., M.Si, Hari Permadi, S.Pt., M.Si., Sahrul Gunadi, S.Pt., M.Si., Galang Damar Pamenang, S.Pi., M.Si., Ishmah Humaidatul Aminah Zaim A., M.Si. dan Aisah Jamili, M.Si.
Sedangkan tim mahasiswa terdiri dari Zaitun Syarmatul Qur'an, Fauzan Hadi Susanto, I Gde Ariesta Pratama, Asnadi, Lalu Reza Iswandi, Khadijah, Jazwandi, Ahmad Anwar, M. Idris Jayadi, A. Khuzman Haristayuda.
Tim PKM UNW Mataram berkolaborasi membuat inovasi baru terkait teknologi pertanian ini dengan Ir. Hery Haryanto, M.Si. yang merupakan dosen Fakultas Pertanian Unram.
Pengaplikasian inovasi biopestida ini telah dilakukan dengan metode pelaksanaan kegiatan yang meliputi penyuluhan dan pelatihan cara pembuatan pestisida bioslurry plus berbasis bahan tanaman dan aplikasinya di lahan jagung dan kedelai sebagai demplot, pembuatan pupuk organik serta pemasaran produk.
Kepala Desa (Kades) Batu Kuta menyambut antusias dan mengapresiasi setiap kegiatan yang dilakukan Tim PKM UNW Mataram di desanya.
"Kegiatan ini sangat bermanfaat karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat Desa Batu Kuta. Kami berharap hasil kegiatan ini terus mendapatkan pendampingan dari Tim PKM UNW Mataram dan Unram, sehingga para petani kami dapat bertani dengan ilmu yang tepat dan penghasilannya bisa terus meningkat", ungkap Kades Batu Kuta Edi Anshori.
Ketua Tim PKM, Dr. Abyadul Fitriyah, MP mengapresiasi masyarakat Desa Batu Kuta yang selalu aktif dan penuh rasa ingin tahu untuk mencoba dan selalu siap mendapatkan ilmu baru, termasuk pengaplikasian inovasi pertanian.
"Terima kasih kami ucapkan kepada masyarakat Desa Batu Kuta dan terima kasih kepada Direktur Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Ditjen Kemendikbud Ristek) yang telah mendanai kegiatan program Pengabdian kepada Masyarakat skema Kemitraan Masyarakat tahun 2024 ini", jelas Dr. Abyadul Fitriyah (ton)
Editor : Kimda Farida