Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kisah Pilu Alika, Bocah Sepuluh Tahun yang Sudah Jadi Yatim Piatu: Ingin Jadi Dokter biar Bisa Mengobati Orang Sakit

Umar Wirahadi • Rabu, 2 Oktober 2024 | 14:16 WIB

Alika Rahmatul Aini didampingi pamannya Jamaludin (kanan) dan kakeknya Hanafi (kiri) di berugak depan rumahnya di Dusun Kesuma, Desa Banyu Urip, Gerung, Selasa (1/10).
Alika Rahmatul Aini didampingi pamannya Jamaludin (kanan) dan kakeknya Hanafi (kiri) di berugak depan rumahnya di Dusun Kesuma, Desa Banyu Urip, Gerung, Selasa (1/10).
Cerita haru film Father & Son mewujud dalam kisah nyata di Dusun Kesuma, Desa Bantu Urip, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat. Nestapa itu dialami seorang siswi SD bernama Alika Rahmatul Aini. Setelah merawat ayahnya yang kanker selama hampir setahun, 19 September lalu, sang ayah menghembuskan napas terakhir menyusul ibunya yang sudah lebih dulu meninggal pada 2021.

 

BERUGAK (gazebo, Red) berukuran 2x5 meter itu riuh oleh suara anak-anak yang duduk sambil bermain.

Suara tawa mereka melengking hingga terdengar dari kejauhan. Secara bersamaan mereka meneriakkan "hompimpa alaium gambreng" sambil membalikkan telapak tangan ke arah depan atau belakang. 

Tapi di sudut barat berugak, seorang bocah duduk agak menyendiri. Seperti tidak menghiraukan teman-temannya yang bermain dengan riang.

Tangannya tampak memegang HP. Pandangannya terus menatap layar ponsel. Rupanya perhatiannya tertuju pada foto seorang pria yang tersimpan di HP itu.

Agak lama dia memperhatikan layar ponsel itu. Tanpa disadari, bulir-bulir bening  mengalir di sela-sela pipinya yang polos.

Air mata itu jatuh hingga membasahi lantai berugak. "Ingat sama ayah," katanya pelan sambil mengusap air mata dengan tangannya.

Nama bocah itu Alika Rahmatul Aini. Di lingkungannya di RT 01 Dusun Kesuma, Desa Banyu Urip, dia biasa disapa Alika. Panggilan itu juga melekat di sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Huda, Desa Banyu Urip.

Karena melihat Alika yang tampak murung, teman-temannya langsung menghampiri.

Anak-anak sebaya itu merangkul Alika. Mereka turun dari berugak lalu berjalan-jalan menyusuri jalan kampung. 

"Dia masih sering ingat ayahnya. Untung ada teman-temannya yang sering ajak main," tutur Hanafi, 71 tahun, kakek Alika.

Bocah 10 tahun itu memang masih dalam suasana duka. Ayahnya bernama Andi baru saja meninggal dunia Kamis, 19 September lalu.

Pria 38 tahun itu meninggal dalam perawatan di RSUD Patut Patuh Patju, Lombok Barat. Dia meninggal karena menderita kanker kelenjar getah bening ganas yang menyerang telinga kirinya.

Yang membuat terenyuh, Alika merawat sendiri orang tuanya.

Selama hampir setahun gadis kecil itu dengan sabar melayani sang ayah. Mulai dari memberi makan, ganti pakaian, hingga memandikan.

Yang paling menyita perhatian Alika adalah membersihkan tubuh ayahnya setiap saat.

Khususnya di bagian telinga, pundak sampai leher. Maklum, nanah bercampur darah selalu menetes dari telinga kiri almarhum ayahnya.

"Harus selalu dibersihkan. Kalau nggak sebentar saja bantal dan baju sudah basah oleh nanah," ucap Alika pelan.

Selama merawat ayahnya, tangan Alika selalu siap dengan tisu. Dia membersihkan bagian belakang telinga, leher dan pundak.

Yang paling susah saat malam hari. Sampai-sampai bocah berambut panjang itu kurang tidur.

Bagaimana tidak. Tidur sebentar saja, sang ayah sudah memanggil minta telinga dan lehernya dibersihkan. Karena nanah campur darah terus mengalir keluar.

"Jadi tetap bangun di samping ayah sambil ngantuk-ngantuk," kenangnya.

Meski penuh perjuangan dan pengorbanan, siswi kelas IV itu sama sakali tidak menyesal. Bahkan dia merasa bangga telah merawat orang tuanya dengan sepenuh hati.

"Ini bentuk bakti saya pada orang tua," ucapnya. 

Kini, ayah yang dicintainya itu sudah meninggal untuk selama-lamanya.

Dalam usia yang masih sangat belia itu, Alika sedang mendapat ujian berat.

Sebelumnya, ibunya bernama Mukiyah sudah meninggal lebih dulu pada 2021. Mukiyah meninggal karena terserang kanker payudara.

Meski berstatus sebagai yatim piatu, Alika ingin terus melanjutkan sekolahnya. Bahkan dia bercita-cita ingin menjadi dokter atau perawat.

Bocah itu berani bermimpi karena berangkat dari pengalaman pahit ditinggal meninggal kedua orang tuanya karena sama-sama sakit kanker.

"Saya mau jadi dokter. Supaya bisa bantu menyembuhkan orang sakit," ujarnya lirih.

Dia bilang tidak ingin banyak orang yang kesusahan seperti dirinya. Ditambah lagi kondisi ekonomi yang minus membuat keluarga Alika harus menerima nasib yang menyakitkan.

"Saya juga ingin jadi orang kaya supaya bisa bantu banyak orang," tutur siswi yang masih berjualan keliling sepulang sekolah itu.

Aksi Alika yang merawat ayahnya selama hampir setahun menuai pujian banyak orang. Banyak donatur yang tergerak memberi bantuan.

Rumah yang dulu ditempati ayahnya selama sakit kini sudah direnovasi total. Rumah berukuran 7x6 meter itu sudah dipasangi keramik lengkap dengan jendela.

"Rumah ini baru jadi Sabtu lalu (28/9)," tutur Jamaludin, paman Alika.

Saat Lombok Post masuk ke rumah itu Selasa (1/10), bau cat tembok masih menguar. Keramik juga baru saja dipasang.

"Dulu rumah ini nggak layak ditempati. Lantainya masih tanah. Almarhum mau memperbaiki nggak bisa apa-apa karena sakit," ujar Jamaludin.

Meski sudah direhab, Alika belum bisa menempati rumah itu. Kini, setelah ayahnya meninggal, sehari-hari dia tidur di rumah sepupunya. Dia tidur satu kamar bersama sepupunya, Dwika Anggraini, yang juga berusia 10 tahun.

"Biarkan saja dulu sekarang tinggal sama sepupunya. kalau sudah besar jadi gadis mungkin mau balik ke rumah ini," sambung Hanafi, kakek Alika.

 

Anak Asuh Desa

 

Monika, guru kelas IV MI Nurul Huda mengatakan Alika adalah siswi yang aktif di kelasnya.

Dia tergolong siswi menonjol karena sering menjawab pertanyaan-pertanyaan guru.

Hanya saja hatinya mudah tersentuh jika teman-teman di kelas menyinggung tentang ayah atau ibunya yang telah meninggal dunia.

"Dia sangat sensitif kalau disinggung tentang orang tuanya. Tapi sejauh ini tidak pernah ada yang sampai bullying," tutur Monika.

Sementara itu, pemerintah Desa Banyu Urip siap menjadikan Alika Rahmatul Aini sebagai anak asuh desa.

"Kami dari pihak desa siap merawat dan menjaga ananda Alika dengan sepenuh hati," kata Kepala Desa (Kades) Banyu Urip Selamet Riadi.

Bahkan setelah kisah Alika yang merawat ayahandanya viral di media sosial, banyak yang menghubungi pihak desa.

Mereka kagum dan salut dengan perjuangan bocah berparas manis itu. Mereka pun mengajukan permintaan ingin mengasuh Alika sebagai anak angkat. Namun pihak desa menolak.

"Ada donatur dari Jakarta ingin mengasuh dan merawat Alika. Tapi saya bilang ada keluarga. Kami di sini siap merawat bersama-sama," ungkap Selamet. (*/r5)

Editor : Marthadi
#pilu #Lombok Barat #alika #Dokter #yatim #Gerung #piatu