LombokPost-Setiap tahun, pada hari Kamis di pekan kedua Oktober, dunia merayakan Hari Penglihatan Sedunia, sebagai momentum penting meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mata.
Secara nasional, peringatan Hari Penglihatan Sedunia berlangsung di Mataram, Kamis (10/10).
Guru Besar dalam bidang ilmu Kesehatan Mata FK-KMK UGM Prof Muhammad Bayu Sasongko mengungkapkan gangguan mata yang paling banyak dialami anak-anak disebut gangguan refraksi.
"Gangguan penglihatan ini terjadi karena bayangan yang dibiaskan kornea dan lensa mata tidak difokuskan tepat di retina,” tegasnya, kepada awak media.
Penyebabnya bisa bermacam-macam, namun aktivitas melihat benda yang dekat itu menyumbang kontribusi yang cukup besar.
Dari hasil penelitian yang sudah dilaksanakan, lebih 80 persen anak-anak usia SD dan SMP saat ini, sudah memakai kacamata.
”Karena mereka selain ada genetik, itu distimulasi oleh kegiatan membaca jarak dekat, penggunaan gawai terlalu lama dan lainnya,” terangnya.
Saat ini, kata Prof Bayu, penggunaan gawai yang berlebihan telah mempercepat proses gangguan penglihatan pada anak, sehingga memicu gangguan seperti mata lelah, mata kering, hingga gangguan penglihatan.
”Bahkan WHO mengungkapkan, gawai tidak hanya mengganggu kesehatan mata anak, namun keseluruhan termasuk kesehatan mental karena ada gangguan konsentrasi ketika anak terlalu lama bermain gawai ini,” jelasnya.
Karena itu, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan RI dr Prima Yosephine Berliana Yumiur Hutapea menegaskan Hari Penglihatan Sedunia mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk lebih peduli dengan kesehatan mata, khususnya anak-anak.
”Banyak anak yang mungkin mengalami masalah penglihatan tanpa disadari orang tua,” kata dia.
Seperti mata sering memicing saat melihat sesuatu dari kejauhan, mata tegang atau lelah setelah menatap layar digital terlalu lama, penglihatan ganda atau kabur, hingga mata berair atau sering mengeluh sakit kepala.
“Ini gejala yang perlu diwaspadai,” ujarnya.
Di kesempatan itu, dirinya mengajak serta orang tua, agar melakukan deteksi dini.
Bisa dilakukan di sekolah.
Orang tua dan guru dapat berperan aktif dalam deteksi dini gangguan penglihatan di sekolah. Misalnya, melalui skrining mata sederhana yang melibatkan anak-anak.
“Bisa melalui pemeriksaan rutin, dengan mengajak keluarga dan teman untuk memeriksakan mata secara rutin di fasilitas kesehatan seperti klinik mata atau optik,” terangnya.
Kemenkes memberikan atensi kepada kesehatan mata pada anak, karena ini sangat penting.
Penglihatan yang baik, tidak hanya untuk kehidupan sehari-hari, tetapi juga untuk memastikan prestasi belajar dan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak.
Melalui penglihatan yang optimal, anak-anak bisa belajar dengan lebih baik, bermain dengan aman, dan berkembang tanpa batasan.
Sebaliknya, gangguan penglihatan, jika tidak dideteksi dan ditangani sejak dini, dapat menghambat perkembangan akademis dan sosial mereka.
“Peringatan ini tidak hanya sekadar perayaan tahunan, tetapi sebuah kampanye yang mengajak kita semua untuk berperan aktif menjaga kesehatan mata anak-anak kita,” tandasnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB HL Hamzi Fikri mengungkapkan bahwa rangkaian peringatan Hari Penglihatan Sedunia, Kemenkes RI telah mencanangkan pemeriksaan deteksi dini penglihatan anak.
“Untuk di NTB, fokusnya di Lombok Barat,” terangnya.
Tim medis memeriksa penglihatan 400 anak yang tersebar di 13 sekolah.
Hasilnya, ditemukan sebanyak 112 anak positif mengalami kelainan refraksi. Ke depannya, pemprov ingin memperluas skrining tersebut.
“Ini kita tidak usah malu dengan data yang tinggi ini, artinya kita sedang bekerja, lebih banyak kita melakukan artinya ketika banyak yang kita temukan, banyak yang kita intervensi,” tegas dia. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida