Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Smelter PT AMNT Beroperasi 2025, Pendapatan Negara dari Bea Keluar Berpotensi Turun

Yuyun Kutari • Jumat, 1 November 2024 | 12:16 WIB
Smelter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), di Kabupaten Sumbawa Barat mulai beroperasi.
Smelter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), di Kabupaten Sumbawa Barat mulai beroperasi.

LombokPost-Mulai Januari 2025, smelter milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), di Kabupaten Sumbawa Barat mulai beroperasi.

Namun, dengan beraktivitasnya fasilitas pengolahan hasil tambang tersebut, malah membuat potensi pendapatan negara di NTB, terancam anjlok.

Kepala Seksi Perbendaharaan Kantor Bea Cukai Mataram Widaya mengungkapkan penerimaan negara dari sektor bea keluar itu akan berkurang.

”Saat smelter ini sudah beroperasi, besar kemungkinan penerimaan untuk bea keluar itu pasti akan berkurang,” jelasnya.

Tahun ini saja, Kantor Bea Cukai Mataram memprediksi pendapatan negara dari bea keluar tidak mencapai target.

Padahal pemerintah telah menetapkan target pendapatan, bisa terkumpul dari bea keluar konsentrat tembaga PT AMNT di angka Rp 4,7 triliun.

“Penerimaan kita itu, dari target yang ditetapkan diperkirakan kita hanya bisa mencapai 83,90 persen dari target tahunan 2024 atau sebesar Rp 3,99 triliun,” tegasnya.

Apalagi, ada rencana dari perusahaan, bahwa di November dan Desember mendatang, AMNT akan melakukan uji coba pengolahan konsentrat tembaga, menjadi barang setengah jadi di smelter yang telah dibangun.

Jika tahun ini saja tidak tercapai, maka diprediksi tahun depan, pendapatan negara dari sektor bea keluar juga akan menurun.

“Seperti itulah kondisinya,” sambung Widaya.

Mengenai target di tahun 2025, Kantor Bea Cukai Mataram akan menunggu lebih lanjut ketentuan dari pemerintah pusat, apakah ada izin ekspor konsentrat atau tidak, saat secara resmi smelter sudah beroperasi.

“Kita tunggu saja seperti apa kebijakannya untuk menyikapi situasi ini,” terangnya.

Adapun fasilitas smelter di KSB ini akan mencakup area seluas 150 hektar, terletak 1,5 kilometer dari Pelabuhan Benete.

Smelter ini memiliki kapasitas input sebesar 900 ribu ton per tahun (tpa), dan akan memproses konsentrat tembaga dari tambang Batu Hijau dan tambang Elang di masa mendatang.

Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) II Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) NTB Maryono mengungkapkan, pihaknya belum mengetahui berapa kapasitas olahan hasil tembaga di smelter AMNT, akan tetapi pendapatan negara, dari penerimaan bea keluar otomatis akan terjadi penurunan.

”Konsentrat tembaga yang sebelumnya banyak di ekspor, dan dikenakan bea keluar, tapi dengan adanya smelter ini, otomatis terjadi penurunan yang cukup drastis, dari penerimaan bea keluar atau pajak barang ekspor konsentrat tembaga,” jelasnya.

Diketahui, terhitung sampai 30 September, penerimaan negara di NTB tercatat telah berhasil dikumpulkan sebesar Rp 7,43 triliun atau 76,23 persen dari target. (yun/r11)

Editor : Kimda Farida
#Pendapatan #perusahaan #Smelter #anjlok #Sumbawa #penurunan