Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Tingkatkan Umur Harapan Hidup, NTB Berupaya Tekan Angka Kematian Bayi

Yuyun Kutari • Senin, 18 November 2024 | 10:33 WIB

 

H Lalu Hamzi Fikri YUYUN/LOMBOK POST
H Lalu Hamzi Fikri YUYUN/LOMBOK POST

LombokPost-Salah satu dimensi pembentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah umur panjang dan hidup sehat yang direpresentasikan Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH).

Badan Pusat Statistik (BPS) NTB mencatat, selama periode 2020 hingga 2024, UHH Provinsi NTB telah meningkat sebesar 1,08 tahun atau rata-rata tumbuh sebesar 0,38 persen per tahun.

Pada tahun 2020, umur harapan hidup warga NTB adalah 71,17 tahun dan pada tahun 2024 mencapai 72,25 tahun.

UHH tahun 2024 meningkat 0,23 tahun atau naik 0,32 persen dibanding tahun sebelumnya.

Salah satu hal yang mempengaruhi UHH adalah angka kematian bayi.

”Kami memang terus mendorong serendah mungkin angka kematian bayi agar IPM kita melaju kencang,” terang Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB H Lalu Hamzi Fikri.

Atensi lainnya, pemprov dengan program yang ada juga berusaha, menekan angka kematian ibu dan pencegahan penyakit menular dan tidak menular.

Hal ini juga bertujuan agar derajat kesehatan masyarakat meningkat.

UUH Provinsi NTB terpantau terus naik setiap tahun.

Dia berharap di momentum NTB Emas tahun 2045 mendatang, UHH masyarakat NTB bisa mencapai di atas 80 tahun. Sehingga angka IPM pun bisa terus meningkat.

Fikri menilai, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks, karena manusia dihadapkan dengan ragam penyakit yang membutuhkan atensi semua pihak.

Misalnya penyakit infeksi emerging (EIDs) yang muncul atau menyebar dengan cepat pada suatu populasi.

Penyakit ini dapat berasal dari virus, bakteri, atau parasit. Penyakit EIDs dapat menjadi ancaman kesehatan masyarakat karena dapat menyebabkan kematian dan dampak sosial dan ekonomi yang besar.

”Mental health juga bukannya semakin menurun, tapi semakin meningkat. Sehingga kita harus punya strategi dalam bidang kesehatan,” terangnya.

Menurutnya, salah satu kebijakan pemerintah dalam hal kesehatan adalah memberi atensi pada pencegahan.

Artinya bagaimana mencegah penyakit dengan cara memelihara kesehatan.

“Sehingga sangat diperlukan gaya hidup sehat sehari-hari agar terhindar dari ancaman penyakit, baik menular maupun tidak menular,” jelas dia.

Kepala BPS NTB Wahyudin mengatakan tinggi rendahnya UHH adalah angka kematian bayi. “Nah sekarang bagaimana caranya agar kematian bayi seminimal mungkin. Salah satunya adalah dari kesehatan lingkungan,” ujarnya.

Berdasarkan rilis Long Form Sensus Penduduk 2020 BPS Provinsi NTB, dalam rentang waktu 50 tahun (periode 1971-2022) terakhir, penurunan Angka Kematian Bayi di Provinsi NTB hampir 90 persen.

Sedangkan untuk Kematian Maternal di Provinsi NTB hasil Long Form SP2020 tercatat sebesar 257 kematian di antara 100.000 kelahiran hidup.Angka Kematian Bayi (AKB) NTB cenderung menurun dari 48 per 1000 kelahiran hidup pada Sensus Penduduk 2010 menjadi 24-25 per 1000 kelahiran hidup pada Long Form SP2020. (yun/r11)

Editor : Kimda Farida
#BPS #Dikes #hidup #kematian bayi #harapan #NTB