Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Live Surgery Craniosynostosis Tandai Kegiatan Lobus Kedua Perspebsi NTB

Hamdani Wathoni • Senin, 6 Januari 2025 | 13:18 WIB
UPGRADE ILMU: Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) NTB saat membuka acara Lombok Brain and Spine Updates (Lobus) kedua yang dirangkai dengan live surgery di Aula RSUD NTB.
UPGRADE ILMU: Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) NTB saat membuka acara Lombok Brain and Spine Updates (Lobus) kedua yang dirangkai dengan live surgery di Aula RSUD NTB.

LombokPost - Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menggelar kegiatan Lombok Brain and Spine Updates (Lobus) kedua di awal tahun 2025.

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari di Aula Prof Soewignjo Gedung RSUD Provinsi NTB, Sabtu (4/1)  dan di Hotel Lombok Astoria Kota Mataram, Minggu (5/1).

“Lobus kedua ini kami laksanakan untuk meningkatkan kompetensi para dokter spesialis bedah saraf. Ini juga terobosan bagi RSUD NTB untuk menangani kasus yang sulit ditangani. Sehingga kami mengundang ahli Prof.Dr.dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS(K),” jelas Ketua PERSPEBSI NTB Dr. dr. Bambang Priyanto, Sp. BS, Subsp. TB (K).

Beberapa pemateri juga turut dihadirkan selama dua hari kegiatan Lobus diselenggarakan. Mereka diantaranya dr. Januarman Sp.BS, M.Ked.Klin, Prof. Azmi Alias, MBBS dari Malaysia, Dr. dr. Muhammad Arifin Parenrengi, Sp.BS (K), Dr. dr. Muhammad Arifin Parenrengi, Sp.BS (K), dr.Mirna Sobana, Sp.BS(K), M.Kes, Prof. Dr. dr. Sri Maliawan, Sp.BS.Subsp.N-Ped, FICS, Prof. Zang Gao dari China, dr. Magda R Hutagalung, Sp.BP.RE.

“Besok kami juga mengundang dokter dari Surabaya dan Bali untuk membahas masalah yang dihadapi saat simposium. Melalui kegiatan ini kami harapkan kita di NTB punya kompetensi dalam menangani kasus bedah saraf terutama yang dialami anak kecil,” lanjut Dokter Bambang, sapaannya.

Salah satu rangkaian acara dalam Lobus ini adalah live surgery atau operasi yang disiarkan secara langsung terhadap salah satu anak yang mengalami kelainan sejak lahir yang disebut Craniosynostosis.

Ini adalah kelainan bawaan yang menyebabkan tulang tengkorak bayi menutup terlalu cepat, sehingga bentuk kepala bayi tidak normal.

Operasi yang pertama kali dengan kasus seperti ini melibatkan sejumlah dokter ahli yang langsung berkolaborasi.

Direktur Utama RSUD NTB dr. HL Herman Mahaputra yang juga hadir membuka acara mengucapkan terima kasih kepada tim bedah saraf RSUD NTB yang menginisiasi terselenggaranya kegiatan Lobus kedua ini.

“Saat ini kita memang dituntut mencari inovasi baru. Dengan adanya kolaborasi nerosurgery dengan tim bedah plastik, kasus-kasus bisa tertangani,” harapnya.

Sehingga bisa memberikan harapan hidup bagi anak yang lahir dalam kondisi yang tidak normal atau mengalami kelainan. 

RSUD NTB saat ini menjadi rumah sakit pendidikan dengan Tipe A. Tidak ada lagi rujukan pasien ke rumah sakit lain.

Maka tentu dibutuhkan pembiayaan untuk bisa memberikan penanganan segala penyakit di rumah sakit ini.

“Maka ini akan kami laporkan ke kepala daerah yang baru bagaimana agar porsi pembiayaan di rumah sakit bisa mendapatkan dukungan,” ucap pria yang karib disapa Dokter Jack tersebut.   

Dokter Jack mengatakan semua masyarakat NTB harus terlayani apakah itu masuk dalam klaim BPJS Kesehatan atau tidak. Yang terpenting, bagaimana pelayanan kepada semua pasien harus diberikan.

Tugasnya dan pihak rumah sakit yang nantinya mengadvokasi pembiayaan yang dibutuhkan untuk penyakit tertentu. 

Sementara Ketua IDI Provinsi NTB yang juga dokter spesialis bedah saraf RSUD NTB Dr. dr. Rohadi Sp BS, Subsp.N-Onk (K), M.H.Kes. menjelaskan jika saat ini ada lima dokter spesialis bedah saraf yang ada di NTB. Padahal, sesuai kalkulasi dibutuhkan ada 10 dokter spesialis bedah saraf.

“Penyediaan dokter bedah saraf tidak hanya pada SDM, tetapi dibutuhkan sarana dan prasarana, fasilitas dan insentif yang berkeadilan,” ucapnya.

Ada beberapa dokter spesialis bedah saraf yang datang ke NTB.

Namun dikatakannya mereka tidak mau tinggal karena belum adanya insentif yang berkeadilan. Terutama di Pulau Sumbawa. Sehingga dibandingkan dengan yang ada di Jawa dan Bali, kehadiran dokter spesialis bedah saraf di NTB perlu dimaksimalkan. 

“Tugas pemerintah daerah adalah menyediakan sarana dan prasarana. Sejauh ini fasilitas yang memadai hanya ada di empat rumah sakit di NTB dan yang paling komplet di RSUD NTB. Investasi SDM itu butuh waktu,” ucapnya.

Sementara salah satu pemateri yang dihadirkan yakni Prof.Dr.dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS(K) memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah yang luar biasa dari PERSPEBSI NTB dan RSUD NTB.

“Ini merupakan langkah yang sangat bagus. Berikutnya lebih bagus kalau sering digelar kegiatan (LobuS) seperti ini,” ucapnya.

Tahun lalu, pertemuan ilmiah para dokter spesialis bedah saraf telah dilaksanakan di NTB.

Kemudian pihak rumah sakit juga memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut. Dengan demikian, kolaborasi organisasi profesi dengan rumah sakit dinilai sangat baik.

Dia mempersilakan pihak RSUD NTB jika ingin mengirim dokter bedah saraf jika ingin belajar di Makassar.

“Tahun ini, kami sudah menerima empat orang. Mungkin berikutnya bisa bertambah,” tandasnya. (ton)

Editor : Kimda Farida