LombokPost-Pemprov NTB memastikan kesiapan pangan lokal untuk program makan bergizi gratis (MBG).
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakkeswan) NTB Muhammad Riadi memastikan untuk pasokan protein hewani NTB cukup.
”Untuk penyiapan telur dan daging NTB ready, kita sudah mandiri,” kata Riadi kepada Lombok Post, Senin (6/1).
Riadi mengatakan, produksi telur dan daging sapi mampu untuk menunjang kebutuhan makan siang bergizi gratis.
Produksi daging dan telur NTB saat ini mengalami surplus, yang mana target untuk tahun 2024 produksi telur daerah 52.484 ton menjadi 53.430, target produksi daging 73.623 ton menjadi 74.830 ton.
Meski beberapa waktu lalu NTB sempat menerima telur dari luar daerah, kini peternak telur dikatakan sudah mulai mandiri.
Dapat dikatakan, NTB untuk saat ini sudah tidak lagi kekurangan sumber protein hewani seperti daging dan telur.
”Kemarin kan kita sudah mandiri telur. Kalau di Agustus kemarin kan belum kita mandiri. Sekarang sudah mandiri, sudah banyak peternak-peternak kita, sudah diisi kandang-kandangnya. Kita sudah over produksi,” terangnya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) NTB Lalu Hamzi Fikri mengatakan, NTB memiliki sumber pangan lengkap bergizi tinggi seperti telur, daging, ikan, udang, sayur-sayuran, dan beberapa komoditas lainnya.
Bahkan, untuk lebih meningkatkan nilai gizi, Fikri mendorong penggunaan nasi jagung sebagai sumber karbohidrat makan bergizi ini.
”Produk lokal yang menjadi warisan budaya kita juga tinggi gizinya, komposisi jagungnya lebih banyak daripada nasinya,” katanya.
Adapun dengan anggaran Rp 10 ribu per anak, Hamzi berharap dana tersebut sudah termasuk susu karena rata-rata pangan yang digunakan merupakan pangan lokal.
”Kalau bisa susu, semoga bisa dengan dana tersebut,” tambahnya.
Pihaknya sudah mulai berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Badan POM dan meminta faskes untuk turut mengawasi program pusat tersebut.
Dirinya memastikan bahwa jangan sampai ada Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti keracunan, diare, dan sebagainya.
”Balai POM akan mengambil sampel di titik lokasi pemberian makan bergizi gratis. Kemarin juga saya lihat di Loteng sudah ada simulasinya. Yang jelas Dinkes akan mengawal memfungsikan puskesmas,” jelasnya.
Juga meminta setiap puskesmas untuk menyiapkan petugas sanitarian yang akan berkoordinasi dengan layanan pemberi makan bergizi gratis, termasuk pihak yang bekerja di dapur untuk memastikan higienis dan sanitasi.
Fikri menyatakan, dari simulasi yang pernah dilakukan, petugas kesehatan memiliki peran yang cukup strategis dalam keberhasilan pelaksanaan program ini seperti memastikan kebutuhan dan pengawasan kesehatan lingkungan.
Pemeriksaan sampel dengan balai POM, memastikan proses tahapan pengolahan pangan sesuai dengan standar keamanan pangan termasuk aspek gizi karena didorong menggunakan pangan lokal.
”Pangan lokal yang fresh karena harapannya dengan makanan yang fresh tentunya gizinya lebih bagus daripada kita menggunakan yang tidak fresh,” tandasnya. (chi/r11)
Editor : Kimda Farida