LombokPost-Museum NTB diketahui menyimpan 1.275 manuskrip yang terdiri dari 400 lebih judul.
Mayoritas bahan naskah kuno itu terbuat dari bahan lontar. Namun hingga kini, penjelasan mengenai apa yang terkandung di dalamnya, jarang diketahui publik.
Hal ini menjadi sorotan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.
“Kelemahan kita adalah kurang narasi, kurang literasi, sehingga sulit untuk melakukan edukasi,” tegasnya, Selasa (7/1).
Menurutnya, harus ada kerja sama menghidupkan koleksi manuskrip yang ada, ke dalam bentuk narasi dan literasi.
”Banyak sekali ditemukan manuskrip, lontar di NTB, mungkin termasuk yang terbanyak di seluruh Indonesia, setahu saya, karena saya juga punya walaupun tidak banyak, tetapi itu didominasi dari NTB,” jelasnya.
Kementerian Kebudayaan RI juga sama penasarannya, hal-hal apa saja yang tertulis di dalam naskah kuno tersebut.
Ketika maknanya termuat dalam bentuk tulisan atau narasi, ini bisa menambah pengetahuan bagi siapa saja yang membacanya, dan memperluas wawasan publik tentang budaya NTB di masa lampau.
“Saya rasa kita bisa melihat apa yang terjadi, jejak-jejak masa lalu yang merupakan pengetahuan budaya yang sangat penting. Begitu juga manuskrip dari kitab, alquran atau naskah-naskah tasawuf dalam peninggalan dan penemuan yang ada di NTB,” papar Fadli Zon.
Tidak hanya manuskrip, narasi juga harus dibuat untuk menjelaskan berbagai benda yang tergolong dalam budaya material.
Sebab benda-benda fisik ini dibuat dan digunakan suatu masyarakat, dengan arsitektur yang menyertainya. Contohnya keris yang ada di Lombok.
“Keris Lombok ini adalah keris yang termasuk luar biasa hebatnya,” kata dia.
Saat ini, keris Indonesia telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda dunia.
Maka bukan hanya penjelasan dalam bentuk narasi, Pemprov NTB juga diminta merayakan budaya keris, ditambah dengan tarian sebagai ekspresi budaya.
“Saya berharap di bawah kepemimpinan gubernur yang baru, sahabat saya Pak Lalu Iqbal, supaya lebih fokus juga menghidupkan dan memajukan kebudayaan di NTB,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan RI juga mendorong agar Museum NTB di masa mendatang, dapat meningkatkan standarisasi dari museum grade B menjadi grade A.
Caranya, dengan terus melakukan berbagai inovasi.
“Tentu dengan sentuhan literasi, narasi yang lebih tajam, dan juga sentuhan teknologi informasi dan komunikasi misalnya dengan teknologi digital,” kata politisi Gerindra ini.
Ragam budaya di Indonesia harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan berkembangnya teknologi, museum harus lebih dekat dengan generasi Z dan Alpha.
Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam menegaskan saat ini pihaknya telah melakukan upaya pelestarian yaitu mengidentifikasi naskah dan dilakukan alih bahasa - alih aksara, kemudian digitalisasi.
“Setelah itu kami melakukan kajian yaitu bedah naskah,” terangnya. (yun/r11)
Editor : Kimda Farida