LombokPost-Pemerintah menaruh perhatian, terhadap perlindungan ekosistem hiu paus yang menjadi isu strategis dalam pengembangan ekowisata di Teluk Saleh, Pulau Sumbawa.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim mengungkapkan perhatian itu dibuktikan dengan telah dilakukan kegiatan Konsultasi Teknis Penyusunan Dokumen Awal Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Perlindungan Hiu Paus di Perairan Teluk Saleh, Pulau Sumbawa.
“Kegiatan ini diinisiasi YKI (Yayasan Konservasi Indonesia, Red), HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia, Red) NTB, akademisi, mitra NGO, OPD terkait dari Kabupaten Sumbawa dan Dompu, dan pihak KKP hadir secara daring,” terangnya, Rabu (22/1).
Penyusunan Dokumen Awal Rencana Zonasi Kawasan Konservasi Perlindungan Hiu Paus ditujukan mengingat pentingnya keberlanjutan ekosistem biota hewan laut tersebut di perairan Teluk Saleh.
Menurutnya, upaya zonasi ini harus memperhatikan keseimbangan antara pelestarian lingkungan, pariwisata dan aktivitas nelayan di wilayah tersebut.
“Ini merupakan upaya pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga yang sudah ada, namun, dalam pembagian deliniasi ruang, kita perlu memastikan bahwa tidak ada irisan dengan area aktivitas nelayan kita,” jelasnya.
Teluk Saleh dikenal sebagai habitat penting Hiu Paus dan menjadi perhatian utama dalam upaya pelestarian biota laut di NTB.
“Dengan adanya rencana zonasi ini, diharapkan ekosistem di kawasan tersebut dapat tetap terjaga, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar,” tandasnya.
Sementara itu, Gubernur NTB terpilih Lalu Muhammad Iqbal menilai perairan Teluk Saleh sebagai salah satu kawasan dengan potensi wisata yang luar biasa.
Sayang, pengelolaan yang masih jauh dari optimal sehingga potensi tersebut belum sepenuhnya dikenal dunia.
“Teluk Saleh ini sangat unik dan langka. Laut biru yang indah dengan kekayaan alamnya adalah aset berharga yang harus dikelola secara maksimal,” kata dia.
Setelah memantau secara langsung, ia pun merancang pengembangan Teluk Saleh ke depan akan diarahkan pada pariwisata berkualitas.
Terlebih, Teluk Saleh bersama Moyo Tambora (Samota) menjadi bagian dari 11 kawasan strategis provinsi (KSP).
Lebih rinci, ini disebut Kawasan Strategis Cepat Tumbuh (KSCT) Samota yang berbasis sektor perikanan, pariwisata, pertanian, peternakan, dan industri seperti minaindustri, agroindustri, dan energi, meliputi Sumbawa, Dompu, dan Bima.
Nantinya pengembangan tidak sekadar meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Bukan soal jumlah wisatawan, tetapi kualitasnya. Wisatawan yang datang harus memiliki spending besar, tinggal lebih lama, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan,” jelasnya. (yun/r7)
Editor : Kimda Farida