Rumah tua berdiri di pesisir pantai Kampung Bugis, membelakangi gelombang pantai yang sewaktu-waktu mengganas.
Di dalamnya Nurhayati tinggal, beribadah, berpikir, berkarya, dan mendidik anak-anaknya menjadi hebat!
------------------------------
SEMERBAK aroma uap harum tercium dari panci yang mendidih.
Di dalamnya beberapa adonan terbungkus plastik mulai berubah warna menjadi coklat.
“Sudah mulai matang,” kata Nurhayati, single parent di pesisir pantai Kampung Bugis, Bintaro, Ampenan, Selasa (21/1).
Usia perempuan tangguh ini telah setengah abad lebih lima tahun (baca: 55 tahun).
Di usianya yang tak lagi muda, ia masih mampu membiayai hidupnya dan anak-anaknya.
Tangannya yang tangguh, membuka panci dengan air yang terus bergolak.
Lalu dengan telunjuk, menekan-nekan adonan terbungkus plastik yang sudah pasti panas.
“Sebentar lagi (ditiriskan),” ucapnya parau.
Di dapur kecil itu, ia telah melukis banyak cerita tentang hidupnya dan lima anak-anaknya.
Namun kepada Lombok Post ini, Nurhayati lebih senang menceritakan kesuksesannya menjalani tantangan hidup daripada meratapi kenangan-kenangan pahit.
“Berbagai usaha yang halal, sudah saya ikhtiarkan untuk mencari rezeki, ini (buat kerupuk, Red) yang kayaknya bakal lama saya tekuni,” ucapnya, lalu tersenyum.
Membuat kerupuk ini, sudah ia jalani sekitar satu tahun terakhir.
Seluruh kemampuannya dalam meracik bumbu dan pengalaman memasak ia curahkan untuk membuat adonan kerupuk ini.
Tapi ini kerupuk, bukan sembarang kerupuk. Kerupuk ini terbuat dari bahan ikan tongkol.
Dan yang lebih istimewa lagi, kerupuk ini tanpa menggunakan boraks atau soda. Bahan yang secara konsisten 'diperangi’ BPOM.
“Nggak pakai soda, ini asli pakai kanji,” ucapnya antusias.
Bahan utamanya tentu saja ikan tongkol. Tapi yang perlu dicatat tebal-tebal adalah ikan tongkol yang segar, yang baru naik dari laut.
Dari mana Nurhayati dapat ikan tongkol yang dijamin segar yaitu dari nelayan yang pulang melaut.
Rumahnya persis di bibir pantai Kampung Bugis.
Nelayan yang baru turun dari perahu, melintasi rumah tua yang didiaminya. Tangkapan ikan utama nelayan di sana adalah ikan tongkol.
Selain alasan potensi ikan tongkol segar yang melimpah, Nurhayati memilih ikan segar untuk alasan kesehatan.
“Takut saya kalau ikan tongkol yang di freezer (baca: didinginkan), nanti yang kerupuk gatal-gatal. Jadi pilih yang benar-benar masih segar,” tekannya.
Kerupuk tongkol bebas boraks itu orisinal karya Nurhayati. Ia bukan tipikal ibu-ibu gemar buka gawai untuk mencari tutorial di media sosial.
“Awalnya saya coba-coba buat sendiri. Setelah jadi kerupuk, kok enak. ‘Kenapa tidak coba jual saja ya?’ Saya bilang begitu dalam hati,” tuturnya.
Untuk sampai pada racikan bumbu kerupuk itu, Nurhayati telah mencoba beberapa kali komposisi bahan.
Sampai ia menemukan komposisi yang pas antara ikan tongkol, tepung kanji, dan tepung terigu serta racikan bumbu garam, gula, dan lain-lain.
“Termasuk bagaimana cara membuat kerupuknya agar bisa mekar (tanpa boraks)," ucapnya.
Racikan bumbu itu didefinisikan sebagai cita rasa yang dapat mempertahankan rasa tongkol.
Dan yang penting menghilangkan bau amis yang menyengat.
“Tetapi orang tetap bisa menikmatinya sebagai kerupuk dengan atau tanpa nasi,” ucapnya, sembari tersenyum. (bersambung/Lalu Mohammad Zaenuddin/r7)
Editor : Kimda Farida