LombokPost-Fakultas Pertanian Universitas Mataram merayakan hari jadinya yang ke-58, Sabtu (25/1). Di usia yang melebihi setengah abad ini, Fakultas Pertanian Unram bertekad menjadi salah satu fakultas yang mampu mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Fakultas ini juga menghasilkan teknologi pertanian tepat guna yang bisa diimplementasikan oleh masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) maupun Indonesia.
“Pada Dies Natalis Fakultas Pertanian ke-58, kami mengangkat tema tentang pembangunan rendah karbon dan ketahanan pangan dalam rangka mitigasi perubahan iklim,” jelas Indriyatno selaku ketua panitia.
Dosen Fakultas Pertanian Unram ini menjelaskan sejumlah bencana belakang kerap terjadi di NTB maupun Indonesia umumnya. Mulai dari banjir, tanah longsor, hingga kebakaran hutan maupun pemukiman warga. Hal ini dinilai tidak lepas karena adanya perubahan iklim.
“Ini akibat pengelolaan alam yang tidak berkelanjutan. Untuk itu kita harus adaptasi dan mitigasi mencegah pemanasan global,” jelasnya.
Pengelolaan sumber daya alam harus diupayakan agar tidak mengeluarkan banyak karbon dan sebaliknya justru harus menyimpan karbon. Salah satu caranya adalah dengan menanam kayu. Untuk itu, dalam rangkaian kegiatan dies natalis yang dilaksanakan, sejumlah kegiatan untuk menggaungkan pengelolaan sumber daya berkelanjutan dilaksanakan.
Mulai dari olahraga bersama, pertunjukan kesenian, serta launching sepeda listrik gridwiz energy dan mobility Korea Selatan. Kemudian ada donor darah dan pengecekan kesehatan gratis, job fair, pembagian doorprize, hingga kegiatan pengabdian kepada masyarakat pengembangan budidaya kopi, perawatan pasca panen dan pemasaran.
“Kemudian ada juga lomba kebersihan, hingga pelepasan sejumlah burung yang bisa membantu proses ketahanan pangan. Fakultas Pertanian kami harapkan ke depan menjadi Fakultas yang mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan,” ucap Indriyatno.
Sementara Dekan Fakultas Pertanian Unram Bambang Dipo Kusumo memaparkan jika di ulang tahun ke-58 Fakultas Pertanian, pihaknya sudah banyak berbenah. “Harapan kami adalah, teknologi yang ada di Fakultas Pertanian bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” imbuhnya.
Sekarang dia menilai ada kemandekan pemanfaatan teknologi sehingga berdampak pada banyak hal khususnya perubahan iklim. Dengan demikian, teknologi pertanian harus beradaptasi atau bermitigasi untuk pengendalian iklim yang tidak menentu.
“Musim panas bisa menjadi musim hujan, musim hujan bisa menjadi musim kemarau. Faktor penyebabnya diduga salah satunya karena pelepasan karbon dan pembakaran bahan bakar fosil yang luar biasa. Sehingga menyebabkan pemanasan di permukaan bumi,” urainya.
Efek gas rumah kaca atau pemanasan global salah satunya ini dinilai akibat produksi CO2 berlebih. Salah satu cara untuk mencegah pemanasan global adalah teknologi agroforestri. Ini adalah sistem pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman berkayu, tanaman semusim, dan ternak.
Tujuannya adalah untuk memanfaatkan lahan secara optimal dan berkelanjutan. Agroforestri dapat membantu mengatasi masalah alih-guna lahan dan ketahanan pangan. Selain itu, agroforestri juga dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat.
“Agroforestri juga sebagai salah satu upaya memitigasi perubahan iklim,” jelasnya.
Dengan sistem ini bisa mempertahankan fungsi hutan dan mengurangi konsentrasi gas rumah kaca. Selain itu, Dekan Fakultas Pertanian Unram juga memaparkan jika biomassa tidak boleh lagi dibakar. Biomassa harus dikelola menjadi kompos atau pupuk organic agar CO2 tidak lepas ke udara.
Teknologi inilah yang kini dihasilkan oleh Fakultas Pertanian. Bagaimana memanfaatkan biomassa menjadi pupuk organik dan mengembangkan agroforestri. “Di usianya yang lebih dari setengah abad, Fakultas Pertanian harus punya tujuan. Teknologi yang dihasilkan bisa diimplementasikan oleh masyarakat dan tepat guna,” tandasnya. (ton)
Editor : Rury Anjas Andita