LombokPost-Hilirisasi industri menjadi strategi utama meningkatkan nilai tambah ekonomi nasional. Hal ini disampaikan Dr Maharani, akademisi Universitas Gunung Rinjani (UGR).
Menurutnya, hilirisasi bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban yang harus dijalankan agar Indonesia memperoleh manfaat maksimal dari sumber daya alam yang dimiliki.
Dr. Maharani menekankan sektor pertambangan dan hasil bumi merupakan fondasi utama ekonomi Indonesia.
”Kita tidak hanya memiliki minyak, tetapi juga emas, nikel, serta komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, cokelat, dan kopi. Sayangnya, banyak hasil bumi ini diekspor dalam bentuk bahan mentah tanpa nilai tambah yang optimal,” ujarnya, Kamis (20/2).
Ia menjelaskan hilirisasi industri dapat meningkatkan nilai jual komoditas sebelum diekspor.
“Jika kita mengolah kelapa sawit menjadi produk turunan seperti minyak goreng atau biodiesel sebelum diekspor, tentu nilai ekonominya akan jauh lebih besar dibandingkan menjual bahan mentah,” katanya.
Maharani melanjutkan, industri hilir memerlukan tenaga kerja lebih banyak dibandingkan sekadar mengekspor bahan mentah. Berkembangnya sektor manufaktur dan industri pengolahan otomatis membuka peluang kerja lebih luas bagi masyarakat.
"Jika hilirisasi diterapkan secara optimal, ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi, sehingga ketahanan pangan dan industri semakin kuat," ucapnya.
Potensi Hilirisasi di NTB
Dalam konteks daerah, khususnya Nusa Tenggara Barat (NTB), sektor pertanian dan pertambangan masih menjadi pilar utama ekonomi. “Saat ini, pertambangan adalah penyumbang terbesar bagi ekonomi NTB, disusul sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan,” jelas Dr Maharani.
Selain itu, kata Maharani, sektor kelautan dan perikanan juga menyumbang pendapatan ekonomi cukup besar di NTB, terlebih saat ini banyak tambak udang tersebar di Pulau Lombok dan Sumbawa.
Namun, ia mengingatkan sektor tambang memiliki keterbatasan umur dan ketergantungan pada regulasi global yang dapat berubah sewaktu-waktu.
NTB memiliki potensi besar dalam beberapa komoditas unggulan, seperti cabai dan kelapa yang diekspor ke 16 provinsi. “Jika kita ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi NTB sesuai target nasional sebesar 8 persen, maka kita harus fokus pada pembangunan sektor ini, termasuk melalui hilirisasi,” paparnya.
Menurutnya, tanpa strategi hilirisasi yang kuat, pencapaian pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen akan menjadi tantangan berat.
“Kita tidak bisa hanya bergantung pada sektor tambang yang suatu saat akan habis. Perlu ada perencanaan jangka panjang agar ekonomi NTB tetap tumbuh secara berkelanjutan,” tambahnya.
Meskipun hilirisasi menjanjikan manfaat besar, tantangan tetap ada. Biaya investasi dalam pengolahan hasil bumi cukup tinggi, sementara regulasi baik di tingkat nasional maupun global berpengaruh terhadap kebijakan hilirisasi.
“Namun, jika pemerintah dan pelaku industri bersinergi dalam membangun infrastruktur dan kebijakan yang mendukung, maka hilirisasi industri dapat menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi,” tutup Dr Maharani.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) NTB Muslim mengatakan, pemda perlu kreatif dalam mencari sumber pendapatan, salah satunya dengan memanfaatkan potensi kelautan. Untuk itu, Pemda harus menyusun Neraca Sumber Daya Laut (NSDL) sesuai arahan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
NSDL adalah dashboard yang berisi data sumber daya kelautan dan pesisir Indonesia dari hasil riset dan survei. Sistem ini mengolah data secara dinamis, menghasilkan informasi terbaru sesuai kondisi di lapangan.
Dashboard ini dapat menampilkan nilai ekonomi, ekologi, dan sosial suatu wilayah perairan laut dan pesisir, serta menganalisis dampak investasi di sektor laut dan pesisir terhadap ekosistem dalam jangka pendek maupun panjang.
Investasi di bidang perikanan tangkap dan budidaya, pariwisata, transportasi laut, hingga pembangunan pesisir yang berpotensi merusak lingkungan dapat dianalisis dampaknya. Selain itu, NSDL juga mampu melacak wilayah lautan dengan nilai ekologis dan ekonomi tinggi.
"Ini ibaratnya ATM di laut, jadi laut kita punya nilai, harga, dan angka," kata Muslim. (arl/r7)
Editor : Rury Anjas Andita