LombokPost-Panen raya diprediksi terjadi pertengahan April. Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) NTB telah berkoordinasi dengan Perum Bulog Kanwil NTB agar produksi padi petani terserap maksimal.
"Kami ingin serapan produksi gabah kering giling bisa dinaikkan," kata Kepala Distanbun NTB Muhammad Taufieq Hidayat, Rabu (5/4).
Saat ini, beberapa daerah sudah mulai panen, tetapi volumenya masih sedikit. Puncak panen diperkirakan berlangsung akhir Maret hingga pertengahan April.
Menurut Taufieq, saat ini gabah petani lebih banyak dibeli pengusaha, sementara Bulog belum turun ke lapangan. "Bagi kami tidak masalah, mau diserap Bulog atau pengusaha yang penting harganya tidak di bawah harga yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.
Harga acuan pemerintah untuk gabah kering giling mencapai Rp 6.500 per kilogram. Bulog diwajibkan membeli dengan harga tersebut agar petani tidak merugi. Presiden Prabowo Subianto juga telah menginstruksikan Bulog untuk menyerap gabah petani minimal Rp 6.500 per kilogram.
"Mungkin di tempat lain ada harga lebih tinggi, silakan petani menjual lebih mahal. Asalkan tidak merugikan mereka," tegasnya.
Pemprov NTB berharap Bulog dapat meningkatkan serapan hasil panen dibanding tahun lalu. Pada 2024, Bulog Kanwil NTB ditugaskan menyerap 75 ribu ton setara beras, tetapi hanya mampu menyerap sekitar 60 ribu ton, atau kurang 15 ribu ton dari target.
Tahun ini, Bulog Kanwil NTB mendapat tugas menyerap hingga 180 ribu ton setara beras, meningkat 100 persen. "Ini kabar baik bagi kita semua. Jika Bulog bisa menyerap minimal 100 ribu ton saja, maka kita tidak akan lagi kemasukan beras impor," tandas Taufieq. (mar/r7)
Editor : Akbar Sirinawa