Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Optimalkan Data untuk Perkuat Industri Pengolahan, Disperin NTB dan BPS Gelar FGD PDRB

Halil E.D.C • Jumat, 14 Maret 2025 | 09:26 WIB
Kepala Disperin NTB Nuryanti (dua dari kanan) bersama sejumlah narasumber saat kegiatan FGD bersama BPS NTB di kantor Disperin NTB.
Kepala Disperin NTB Nuryanti (dua dari kanan) bersama sejumlah narasumber saat kegiatan FGD bersama BPS NTB di kantor Disperin NTB.

Lombok Post-Dinas Perindustrian (Disperin) NTB bersama Badan Pusat Statistik (BPS) NTB menggelar Focus Group Discussion (FGD) terkait pembahasan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sektor industri pengolahan di NTB.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi data ekonomi serta memperkuat peran industri pengolahan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Kepala Disperin NTB Nuryanti menegaskan bahwa sektor industri pengolahan memiliki peran strategis dalam meningkatkan nilai tambah produk lokal. Oleh karena itu, pemetaan dan pencatatan data yang akurat menjadi kunci dalam menyusun kebijakan industri yang tepat sasaran.

“Dengan data yang akurat, arah kebijakan pengembangan industri dapat lebih fokus dan memberikan dampak nyata bagi pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya.

Dalam diskusi tersebut, BPS NTB menjelaskan prinsip dasar System of National Accounts (SNA) yang digunakan dalam penghitungan PDRB, yang menekankan komprehensif, konsisten, dan terintegrasi.

Dengan prinsip ini, data yang dihasilkan diharapkan dapat menggambarkan kondisi ekonomi NTB secara lebih menyeluruh dan sesuai dengan standar nasional maupun internasional.

Selain itu, BPS juga menyoroti pentingnya metode penghitungan PDRB Atas Dasar Harga Konstan (ADHK). Seperti metode revaluasi, ekstrapolasi, deflasi, dan double deflasi.

Pemilihan metode yang tepat akan membantu dalam mencerminkan nilai ekonomi yang lebih akurat. Terutama bagi sektor industri pengolahan yang terus berkembang.

Sementara itu, Disperin NTB menekankan bahwa industri pengolahan di NTB harus dikembangkan secara berkelanjutan dengan berbasis pada data yang valid.

Beberapa sektor yang dinilai memiliki potensi besar untuk diperkuat. Di antaranya adalah industri olahan jagung yang mencakup produksi pakan ternak, tepung maizena, minyak jagung, dan popcorn.

Industri tembakau juga menjadi perhatian utama, di mana perlu dilakukan pengolahan lebih lanjut agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku rokok dengan masa simpan lebih lama. Serta pengolahan batang dan bunga tembakau untuk industri saus dan essential oil.

Disperin NTB juga menyoroti perlunya pembangunan gudang penyimpanan bahan baku industri rokok guna menjaga kualitas dan nilai jual produk tembakau lokal. Selain itu, sektor kopi bubuk lokal juga menjadi fokus pengembangan agar semakin kompetitif di pasar nasional.

Selain itu, Disperin NTB mendorong hadirnya kebun tebu atau ketersediaan bahan baku yang berkelanjutan untuk produksi gula pasir, sehingga NTB tidak bergantung pada pasokan luar daerah.

Minyak kayu putih juga menjadi salah satu komoditas yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Termasuk pengolahan kemiri yang dapat dimanfaatkan untuk sektor pangan dan kosmetik.

Melalui FGD tersebut, Nuryanti menegaskan bahwa Disperin NTB akan terus memperkuat sinergi dengan BPS dan berbagai pemangku kepentingan lain. Tujuannya agar kebijakan industri di NTB berbasis pada data yang akurat.

Menurutnya, penguatan industri pengolahan yang berbasis pada potensi daerah akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat NTB. (lil)

Editor : Haliludin