Metropolis Nasional Ekonomi Bisnis Politika Hukrim Astra Honda NTB Sportivo Newstainment Pendidikan Video Dunia Teknologi Kesehatan Gaya Hidup Kuliner Lapsus Lifestyle Opini Aneka

Kuota Pendakian Sesuai Daya Dukung Kawasan, Jangan Jual Murah Gunung Rinjani!

nur cahaya • Selasa, 8 April 2025 | 09:35 WIB

 

DAYA TARIK: Danau Segara Anak yang terletak di kawah Gunung Rinjani, selalu menjadi spot favorit para pendaki, di sana terdapat area dangkal yang bisa dijadikan tempat untuk berenang pengunjung.
DAYA TARIK: Danau Segara Anak yang terletak di kawah Gunung Rinjani, selalu menjadi spot favorit para pendaki, di sana terdapat area dangkal yang bisa dijadikan tempat untuk berenang pengunjung.
 

 

LombokPost-Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) resmi membuka enam jalur wisata alam pendakian sejak 3 April lalu. Namun, protes terkait pembatasan kuota pendakian masih bermunculan.

“Kami masih mendengar kalau ada yang protes terkait pembatasan kuota ini,” terang Kepala Balai TNGR Yarman, Senin (7/4).

TNGR menetapkan kuota 700 pendaki. Rinciannya, jalur Senaru, Sembalun, dan Torean digabung menjadi 400 kuota. Sedangkan jalur Aik Berik, Tete Batu, dan Timbanuh masing-masing 100 kuota.

Menurut Yarman, jumlah itu tidak kurang. Kuncinya ada pada manajemen yang dilakukan oleh trekking organizer (TO).

“Ini sebenarnya tidak kurang. Tergantung dari teman-teman TO bagaimana cara pengaturan tamu-tamu ini, jangan semua tamu diterima. Bisa dibatasi,” tegasnya.

Ia juga menyoroti harga paket wisata yang kerap dijual murah. “Katanya mau menuju ke pariwisata berkualitas, bukan kuantitas, jadi jangan jual murah paket-paket itu,” jelasnya.

Yarman memahami aktivitas pendakian sudah menjadi sumber penghasilan warga. Namun, pembatasan kuota diterapkan berdasarkan kajian ilmiah yang memperhitungkan daya dukung dan daya tampung kawasan.

“Alasan kita menetapkan kuota, ini sudah melalui proses kajian yang disesuaikan dengan daya dukung dan daya tampung atas kawasan Rinjani. Macam-macam seperti ketersediaan air, dan fasilitas pendukung lainnya,” paparnya.

TNGR, kata dia, tidak ingin Gunung Rinjani berubah seperti pasar karena dikelola tanpa kontrol. Sebagai kawasan konservasi, keberlangsungan ekosistem harus dijaga.

“Dengan cara ini, artinya wisata pendakian ini tetap berkelanjutan, dan kawasan kita bisa terjaga,” tambahnya.

Baca Juga: Pascalibur Lebaran, RSUD Ruslan Kota Mataram Bersiap Hadapi Lonjakan Pasien

Pembatasan kuota juga berkaitan dengan upaya pengendalian sampah. Saat ini, TNGR tengah menggencarkan program Rinjani Zero Waste 2025, dengan mendorong penggunaan wadah ramah lingkungan menggantikan bungkus plastik, kaleng, dan stereofoam.

“Dari pembatasan kuota ini, volume sampah kita kendalikan,” kata Yarman.

Ia menegaskan, pendakian merupakan wisata ekstrem yang memiliki risiko tinggi, mulai dari cedera hingga kehilangan nyawa. Karena itu, TO diminta tidak hanya mengejar jumlah tamu, tapi juga memperhatikan keselamatan dan kenyamanan.

“Kami terus mengimbau, masuklah sesuai SOP pendakian dan evakuasi, semua ini kita atur karena kita juga mementingkan kenyamanan dan keselamatan jiwa,” ujarnya.

Yarman membuka ruang diskusi soal penambahan kuota. Namun, semua tetap harus melalui kajian yang matang. “Semua itu ada pengaturannya, kalau nggak ya nanti amburadul,” pungkasnya.

Terpisah, melalui akun Instagram resmi, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengimbau pendaki mematuhi aturan TNGR demi keselamatan. “Ikuti terus perintah dan aturan dari teman-teman dari Balai TNGR,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan selama pendakian. “Jangan sampai Gunung Rinjani kita yang indah, justru terkenal karena gunungan sampah akibat para pendaki nakal yang membuang sampah tidak pada tempatnya,” tegasnya. (yun/r7)

Editor : Redaksi Lombok Post
#TNGR #rinjani #pendakian #wisata #kuota